Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Kecewa Secukupnya

 

    


Selagi bumi masih berputar,

selagi pikiran masih bergerak lincah,

dan masih memiliki kehendak bebas,

kamu masih akan terus berjumpa dengan kecewa.

 

Kecewa …

karena realita yang tidak sesuai cita-cita

karena janji yang sudah diingkari

karena cinta yang berujung luka

karena hidup berjalan tidak sesuai harapan.

Kamu kecewa pada orang-orang di sekitarmu,

pada kehidupan,

pada keadaan,

bahkan pada Tuhan.

 

Jadi sampai pada titik ini,

mestinya kamu telah terbiasa dengan kecewa

dan memahaminya sebaik-baiknya.

 

Karena tahukah kamu?

kecewa yang berlebihan dapat menjelma menjadi selaput

yang menutup mata, telinga dan pikiran

sehingga tidak mampu merasakan lagi

berkah yang tersembunyi

yang biasanya ada di balik peristiwa pahit yang kamu alami.

 

Jadi kecewa-lah secukupnya.

Selagi bumi kita masih berputar

kamu tidak bisa menghilangkannya,

jadi sebaiknya belajarlah berteman dengannya.


----


Pertama kali tayang di Kompasiana

Ilustrasi gambar dari pixabay.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:










Komentar