Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Gitaris jadi Komisaris



Di teras rumah yang sepi, Jono duduk di atas kursi rotan sambil memangku gitar bolong. Jemari tangan kirinya lincah berpindah-pindah senar, selaras dengan gerakan tangan kanannya. Jono mengikuti melodi dari gawai yang tergeletak pasrah di sisi Jono.

Lagu itu adalah lagu lawas dari Band Kucai, band favoritnya yang beraliran pop rock. Memang, lebih dari setengah daftar lagu dalam gawai Jono itu adalah lagu-lagu dari Band Kucai ini, mulai dari album paling pertama sampai album teranyar.

Beberapa jangkrik yang tadi masih berbunyi sesekali, kini hening karena tahu diri. Bulan sabit yang baru saja naik ke langit malam juga seperti betah menikmati alunan gitar Jono.

Keasyikannya bermain gitar terganggu sejenak karena gawainya bernyanyi nyaring pertanda ada panggilan masuk. Setelah dicek, itu dari panggilan dari Bahrun kawan karibnya dari sebelah kompleks.

“Kenapa, Run?” Jono menjawab panggilan itu.

“Jon, ke pos depan kompleks, yuk, kurang satu orang lagi untuk main kartu remi!”

Jono menjawab dengan mengecilkan volume suara, takut istrinya di dalam mencuri dengar.

“Masa sih?”

“Iya, cepetan!”

“Tapi … gak enak, Run. Istri lagi sibuk tuh di dapur, ngurus pesanan catering orang. Kalau aku menghilang begitu saja, bisa-bisa dimakan hidup-hidup pulang nanti.”

Bahrun terdiam sejenak.

“Mm… ya, udah kalau gitu. Aku telepon Eko atau Bambang. Eh, sudah tahu kabar terbaru, belum?”

Jono mengernyitkan kening.

“Ya, belumlah, dodol! Kabar terbaru apa?”

“Itu, Muklis Kucai, gitaris band favorit kamu itu… sekarang dia kan diangkat jadi Komisaris BUMN,” lalu Bahrun terkekeh kecil.

“Masa sih?”

“Iyaa, Jon. Makanya jadi fans jangan terlalu buta. Sudah aku bilang dari dulu, Kucai tuh main politik juga. Kamu gak percaya. Coba buka berita deh, eh, udah dulu ya, si Eko nelpon nih,” lalu tanpa menunggu jawaban Jono, Bahrun langsung mengakhiri percakapan mereka.

Jono pun buru-buru berselancar ke beberapa portal berita di gawainya. Memang benar kata Bahrun.

“Sialan!,” umpat Jono. “Ternyata Muklis Kucai memang sudah terkontaminasi politik, dari gitaris mau aja diangkat jadi komisaris oleh rezim. Ah, terpaksa aku ganti band favorit sekarang.”

“Yee! Mending dari gitaris jadi komisaris,” tahu-tahu Mirna, istrinya muncul dari balik pintu. Rupanya sejak Jono menerima telepon tadi, dia sudah menguping dari situ. Rambut Mirna masih berantakan dan ada bercak-bercak tepung di sana-sini, pertanda memang sedang berjibaku di dapur.

“Dari pada kamu, dari pegawai kantor jadi gitaris gak jelas! Bantuin kek di belakang, ngatur makanan ke kotak. Itu setengah jam lagi orangnya Bu Maimunah mau datang ambil pesanannya!” sambung Mirna lagi.

“Iya, iya, berisik amat sih,” gerutu Jono, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berdiri malas-malasan mengekor Mirna ke dalam rumah.

Beberapa bulan lalu, Jono memang terkena imbas perampingan struktur karyawan di kantornya. Setelah itu dia mencari nafkah dengan menjadi tukang ojek, sambil memasukkan aplikasi lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi ya, kalau mau dihitung-hitung lagi, memang lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain gitar bolong, salah satu hobi yang semakin ditekuni sejak terkena PHK.

Untung saja istrinya memang terkenal jago masak sampai ke kompleks-kompleks perumahan tetangga. Jadi selama ini mereka lumayan sukses menyambung hidup dari bisnis catering kecil-kecilan.

Gawai Jono berbunyi lagi.

“Kenapa lagi ini si Bahrun?” gumam Jono.

“Jangan diangkat!” seru Mirna.

“Kok jangan diangkat, Ma? Siapa tahu mau pesan catering kita?”

“Mmmh…,” Mirna mencibir, “paling diajak main kartu remi di pos depan!”

Jono terkejut lalu tersenyum malu-malu, persis kucing yang tertangkap basah sedang ngincar ikan goreng di meja makan.

“Kok tahu, Ma?”

“Ya, tahulah! Pokoknya kalau kamu jawab teleponnya, nanti malam tidur di teras.”

Nah, kalau itu skak mat namanya. Jono pun langsung membuang gawainya yang masih bernyanyi ke atas sofa lalu buru-buru ke dapur.   

---  

ilustrasi gambar dari pixabay.com 



Baca Juga Fiksi Keren lainnya:


Komentar