Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Basalto Terakhir [13-14]


Perjalanan sejarah Gopalagos tidak terpisahkan dari sejarah kaum sihir yang menghuni benua purba tersebut. Kerajaan Emerald, Ruby dan Ametys yang menguasai beberapa wilayah Gopalagos saat ini adalah wajah dari dinamika peradaban kaum penyihir, termasuk Kerajaan Basalto yang kini telah jadi sisa-sisa sejarah.

Basalto. Saat ini kerajaan yang telah punah digerus zaman tersebut tidak lebih dari hutan belantara tak terjamah  yang dihuni hewan-hewan buas dan liar. Kendati demikian, riwayat kerajaan Basalto adalah simpul penting dalam jalinan kisah ini.


Untuk menelisik bagaimana sebenarnya kisah kita ini dimulai, baiklah, kita akan mengarungi waktu untuk menghirup kembali udara Gopalagos kurang lebih 120 tahun yang lalu.

Pada masa itu, manusia dan penyihir baru saja mendeklarasikan perdamaian di antara kedua kaum. Tidak ada lagi peperangan yang mengatasnamakan kaum sihir dan non-sihir. Para pemimpin kaum sihir sepakat untuk mengubur dalam-dalam kitab tentang ilmu sihir hitam, kutuk dan segala sihir turunannya.

Pasukan Sagit yang dibentuk oleh kerajaan-kerajaan manusia pun dibubarkan. Sagit adalah julukan untuk manusia-manusia yang terlahir dengan kelebihan khusus, yaitu imun terhadap ilmu sihir. Mereka tidak bisa diserang dengan mantra dan kutuk sekalipun. Mereka memang terlahir untuk mementalkan segala sihir yang ditujukan kepada mereka. Kerajaan-kerajaan manusia merekrut kaum Sagit ini untuk ditempatkan pada pasukan khusus yang berada paling depan saat berperang melawan kaum sihir.

Kesepakatan menghentikan perseteruan itu mengawali masa-masa penuh damai pada hubungan antara manusia biasa dan penyihir di Gopalagos.

Pada masa itu, kaum sihir memiliki pemimpin besar bernama Shandong, seorang penyihir sakti mandraguna yang berusia lebih dari 200 tahun. Kendati sudah sedemikian tua, Shandong masih fasih melatih dan mendidik penyihir-penyihir muda yang menempa ilmu di padepokan sihir miliknya. Usia lanjut memang sudah biasa terjadi pada kalangan penyihir terutama pada penyihir-penyihir berilmu tinggi.

Shandong juga terkenal karena kebijaksanaan dan kecerdasannya. Karena berbagai kelebihannya itulah orang-orang biasa memanggilnya Guru Shandong.

Seiring usia yang terus bertambah, Guru Shandong lalu bertekad mencari penyihir-penyihir muda berbakat yang akan ditempa khusus agar menguasai semua ilmu sihir yang dimiliknya. Guru Shandong sadar, suatu saat dia juga akan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Selain akan menurunkan pengetahuan sihirnya, Guru Shandong juga merasa harus memiliki penerus yang mampu terus menjaga perdamaian antara kaum sihir dan non-sihir.

Guru Shandong kemudian mulai memperhatikan setiap murid, penyihir-penyihir muda yang diasuhnya dengan seksama. Ada empat penyihir muda yang berhasil mencuri perhatiannya. Mereka adalah penyihir-penyihir yang cerdas, tekun dan gigih. Guru Shandong pun memanggil dan mendidik mereka secara khusus.

Keempat murid khusus itu adalah tiga pemuda bernama Thores, Basaman dan Huria serta seorang gadis bernama Kesha.

Guru Shandong mengajar keempat muridnya sepenuh hati. Keyakinannya mulai terbukti. Semakin lama keempat murid semakin terlatih dan mulai menunjukkan tanda-tanda akan menjadi penyihir besar pada masanya. Rahasia-rahasia ilmu sihir tertinggi mulai diberikan satu persatu seiring pertambahan usia murid-muridnya. Pengetahuan dan ilmu sihir yang tidak pernah dia ajarkan sebelumnya pun dibagikan kepada murid-murid kesayangannya itu.

Selain mengajarkan pengetahuan sihir di padepokan, Guru Shandong juga melatih murid-muridnya untuk bersahabat dengan alam semesta.

Mereka berlima kerap menjelahi hutan, menelusuri pantai, mendaki tebing-tebing dan menyisir lembah untuk mencari pusat-pusat energi kosmis dari semesta untuk memaksimalkan energi sihir mereka.

Saat berada di puncak-puncak benua, Guru Shandong mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa mereka harus menghormati matahari yang memberi energi pada siang, sama baiknya dengan menghormati bulan yang meneduhkan malam.

Saat menjelajahi hutan belantara, Guru Shandong mengajarkan nama setiap tumbuhan dan pepohonan serta khasiatnya untuk manusia.

Saat hujan tiba, Guru Shandong mengajarkan cara memanen energi dari setiap bulir hujan. Saat malam  hampir membekukan sel-sel darah, Guru Shandong memberitahu cara membangkitkan panas tubuh untuk mengusir hawa dingin itu.

Selain mengajar ilmu sihir, Guru Shandong juga memberi pelajaran mengenai moral dan etika-etika seorang penyihir serta bagaimana seorang penyihir harus menghargai manusia non-sihir di sekitarnya. Pendek kata, Guru Shandong benar-benar menjadi guru kehidupan bagi murid-muridnya.

****

Pada suatu malam tanpa cahaya bulan, Guru Shandong meminta secara khusus keempat muridnya untuk makan malam bersamanya. Dia bermaksud menyampaikan sebuah pesan penting setelah makan malam selesai.

Malam semakin larut. Seekor burung hantu yang tadinya bertengger malas di dahan, tiba-tiba terbang menukik tajam mengejar keluarga tikus hutan yang muncul dari balik semak-semak. Nampak juga pasukan kunang-kunang menari di atas atap pondok, tempat Guru Shandong berkumpul dengan keempat muridnya.

Mereka kini duduk melantai beralas tikar, mengitari sebuah meja pendek. Keempat murid membagi diri pada dua sisi meja yang berseberangan, sedangkan Guru Shandong berada di ujung meja bersisian dengan mereka.

Makan malam yang hangat baru saja dituntaskan, dan kini mereka larut dalam percakapan ringan. Kendati meja makan sudah dibersihkan, Aroma ikan bakar dan tuak masih menggantung di sudut-sudut ruangan.

Sambil bercakap-cakap, Guru Shandong memperhatikan murid-muridnya.

Dari antara keempat murid, Thores-lah yang paling keras kepala dan paling memiliki jiwa kepemimpinan. Kendati demikian, Thores adalah murid yang tercerdas di antara mereka.

Kesha, satu-satunya gadis di antara tiga pemuda. Namun itu tidak membuatnya menjadi yang paling lemah. Justru kadang-kadang Kesha menjadi yang paling tangguh dibanding ketiga murid yang lain. Dia juga terlihat cukup menikmati pelajaran mengenai kekayaan flora dan fauna Gopalagos, sehingga Guru Shandong gemar berbagi pengetahuan mengenai ramuan sihir kepadanya.

Kemudian Basaman. Ah, murid ini adalah murid yang paling gemar melucu. Dia tak pernah kehabisan ide untuk membesarkan hati kawan-kawannya pada saat mereka sedang menempuh pelajaran-pelajaran sulit. Basaman adalah seorang ahli pertanian, karena dia dibesarkan di antara petani-petani  pada salah satu kerajaan manusia.

Sedangkan Huria, dia adalah murid yang paling tidak banyak bicara. Lebih suka menghabiskan waktu di ruang kontemplasi untuk memuaskan dirinya menikmati literatur-literatur kuno. Dibanding murid yang lain, Huria memiliki bakat khusus dalam ilmu membaca pikiran, salah satu cabang ilmu sihir yang jarang peminatnya karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Guru Shandong menyadari begitu beruntungnya dirinya berhasil menemukan empat mutiara ini diantara ratusan murid yang saat ini sedang menimba ilmu di padepokannya.

“Apa yang membuat Guru nampak bahagia malam ini?” tanya Thores.

Guru Shandong tidak langsung menjawab. Ketiga murid lainnya pun menghentikan obrolan mereka.
Murid-murid tahu kebiasaan gurunya. Guru Shandong jarang sekali mengundang murid atau bahkan guru-guru yang lain untuk makan malam bersamanya. Jika itu terjadi, biasa guru mereka hendak menyampaikan sesuatu yang penting.

Guru Shandong berdehem. "Murid-muridku, senang sekali rasanya memandang kalian seperti ini."


Kesha, Basaman dan Thores saling pandang. Namun Huria nampak serius membaca air muka gurunya.

--------

(bersambung)

ilustrasi gambar dari: www.smosh.com




 photo Jangancopasing.jpg

Komentar