Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Basalto Terakhir [64]


“Selamat datang, Enror,” sapa Mirina ramah dan berwibawa.

“Aku semestinya selalu ingat untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal saat berkunjung ke sini,” sahut Enror. Dia adalah raja kerajaan Ametys, generasi kedua penyihir Basaman yang kemudian dipanggil Ametys, pendiri kerajaan itu.

“Oh ya, kamu sudah tahu rencana kedatangan kami?”

“Aku mendapat pesan dari Orion. Tapi hanya sampai disitu saja,” sahut Mirina.


Dari belakang Enror menyusul pula Orion. Reaksinya hampir sama dengan reaksi Enror sebelumnya.

“Sebentar lagi musim dingin mencapai puncaknya,” sambut Mirina.

“Pantas saja dingin begini.” Orion segera memasang selubung sihir untuk mengenyahkan hawa dingin.

“Mari saudara-saudara, kita ke dalam istana yang hangat.”

Mirina mengajak kedua raja lalu melangkah dengan anggun kembali ke istana. Enror dan Orion mengikuti.

“Mestinya ada sesuatu yang sangat penting terjadi, sehingga kalian meninggalkan kerajaan kalian ke tempat ini?”

Mirina adalah penyihir pembaca pikiran yang handal, tapi demi kesopanan dia tidak berusaha membaca pikiran penyihir-penyihir di belakangnya.

Orion menoleh ke Enror, sepertinya meminta Enror untuk berbicara. Tapi Enror menunjukkan isyarat sebaliknya.

“Ya, benar Ratu. Kejadian menggemparkan tengah terjadi di salah satu kerajaan manusia. Tetapi mungkin hampir seluruh kaum sihir di tengah Gopalagos mengetahuinya,” Orion pun membuka penjelasannya.

Langkah Mirina melambat, “Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Putri raja Philos beberapa hari yang lalu terkena semacam sihir hitam…”
Kening Mirina berkerut.

“Sejak pertama kali terkena sihir itu, dia terus tertidur tanpa bisa dibangunkan lagi. Tanda-tanda kehidupan tetap berjalan, nadinya berdenyut, darahnya mengalir, namun kesadarannya benar-benar di titik paling nadir.”

“Lebih baik langsung saja katakan dia terkena kutuk Tidur Abadi!” sergah Enror tidak sabaran.

Mirina terkejut.

“Siapa gerangan penyihir yang berani melakukannya?” tanyanya.

“Sayang sekali kami sama sekali belum mengetahui jawaban pertanyaan itu,” sahut Orion.

“Makanya Orion mengajakku ke sini untuk meminta pertimbangan sebagai sesama pemimpin kaum sihir,” sambung Enror.

“Ya, aku mengerti. Selama beberapa hari ini aku terus mendapat penglihatan lewati mimpi kalau sesuatu yang besar akan terjadi. Mungkin kasus ini penyebabnya.”

“Kami butuh denah istana Basalto sebelum jadi puing-puing.”

Langkah Mirina terhenti dan dia menatap Enror serta Orion bergantian.

“Jangan bilang kalian hendak kembali ke sana?”

“Memulai dari tempat sihir-sihir hitam dikubur bisa jadi awal yang baik, Ratu Mirina. Kita tahu kalau semenjak kerajaan Basalto jatuh, tidak pernah lagi ada sihir hitam seperti ini,” sahut Orion.

Mereka telah sampai di pintu depan istana Ruby. Para prajurit yang berjaga memberi hormat takzim.

“Sekali lagi, selamat datang di istana kerajaan Ruby,” ucap Mirina dengan suara datar.

“Kita berdiskusi di balkon favoritku, sambil menikmati minuman hangat.”

Orion sepakat. Enror kelihatan senang.


“Ah, akhirnya ada yang menawari kita minuman…”

------

(bersambung)

ilustrasi gambar dari: www.123rf.com

Komentar

pical gadi mengatakan…
Makasih mas sudah mampir :)