Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Basalto Terakhir [68-69]


Penonton tanpa sadar menahan napas menunggu apa yang akan terjadi. Nihil.

Pesulap itu juga sedang menahan napasnya. Sepertinya sulapnya tidak bekerja kali ini. Dia kembali memejamkan matanya lalu menyalurkan energinya melalui ujung tongkat dalam genggamanya. Tidak ada yang terjadi. Pria berkepala plontos tetap bergeming.

"Ada yang salah," gumamnya. Titik-titik peluh mulai membasahi keningnya.


Dua orang keluar dari dalam tenda. Satu lagi pergi sambil menyeret kedua anaknya. Mereka semua pergi begitu saja. Padahal remaja pembawa kotak uang pertunjukan sejak tadi berdiri di depan tenda dengan wajah memelas.

"Maaf, Anak- anak, sepertinya ada kesalahan. Hmm... mungkin ularnya singgah sebentar untuk membeli telur di pasar, lalu lupa jalan pulang."

Beberapa anak masih bisa tersenyum simpul dalam ketegangan mereka. Pria berkepala plontos yang sejak tadi diam seperti patung juga memaksa diri tersenyum. Tetapi dari bahasa tubuh pesulap jelas terlihat kalau dia sedang kebingungan.

Pesulap itu pun mencoba untuk ketiga kalinya. Kali ini gumam mantranya terdengar semakin jelas menggema di dalam tenda. Beberapa orang jadi semakin yakin kalau pesulap ini adalah salah satu kaum sihir. Tetapi mereka tetap penasaran.

Pesulap sekali lagi menyentakkan tongkat sihirnya ke depan. Pria berkepala plontos tetap bergeming. Yang terjadi kemudian adalah tongkat sihirnya terpental ke bagian belakang tenda.

Beberapa anak menjerit. Seekor ular Piton tiba-tiba muncul di atas peti berisi tumpukan properti sulap lainnya. Masalahnya, peti itu berada di sisi tenda, cukup dekat dengan tempat anak-anak duduk.
Ular itu kelihatan begitu tenang, namun lidahnya terjulur berkali-kali membuat anak-anak cukup ketakutan. Beberapa orang tua mulai menarik anak-anak mereka.

Pesulap geram. Pertunjukan pamungkasnya tidak berjalan mulus. Dia mengibaskan tangan kanannya, dan pemandangan ular itu sirna seketika seperti asap yang dibawa angin.

"Pertunjukkan malam ini selesai," ucapnya ketus.

Terdengar teriakan kecewa dari beberapa penonton. Tidak ada tepuk tangan takjub seperti biasanya. Anak-anak pun berdiri dan ditemani para orang tua bergerak meninggalkan tenda. Untunglah masih ada beberapa orang yang peduli dengan wajah memelas remaja pembawa kotak uang, sehingga satu dua keping Durha mengalir ke dalam kotak.

Setelah tenda cukup sepi, pesulap menumpahkan kekesalannya kepada pria berkepala plontos.

"Aku sudah bertahun-tahun tidak bertemua orang sepertimu. Mengapa tidak bilang sejak tadi?"

Pria berkepala plontos mengangkat bahunya.

"Kamu tidak memberiku kesempatan, Pak tua."

Pesulap itu menggeleng-geleng, lalu meraih beberapa koin Durha dari kotak sumbangan dan menyerahkannya kepada pria berkepala plontos.

"Aku bisa memberimu empat kali lipat kalau saja pertunjukan tadi berhasil."

"Itu bukan kesalahanku, kan?"

"Jelas kesalahanmu, bodoh! Sekarang pergilah, dan jangan pernah mengganggu pertunjukanku lagi."
Pria berkepala plontos pun meninggalkan tempat itu. Mesti hanya diberi upah beberapa Durha, dia cukup senang. Sudah bisa dipakai membeli sekerat daging panggang, atau semangkuk sop kacang merah untuk makan malam hari ini.

Saat keluar dari tenda dua pria lain mengikutinya diam-diam. Mereka baru mencegatnya setelah berada di lorong pasar yang agak sepi.

Pria berkepala plontos bersiap-siap melayangkan tinjunya sesaat sebelum salah satu pria memperlihatkan gagang pedang yang tersembunyi di balik jubahnya.

"Kamu datang dalam damai, Tuan. Kami melihat yang terjadi dalan tenda pesulap tua itu."

"Apa yang kalian inginkan?"

"Kami ingin anda bersedia bergabung dengan prajurit kerajaan Zatyr. Pasukan khusus kaum Sagit."

Hening sejenak.

"Aku bukan petarung. Aku pandai besi yang baru saja sampai di kerajaan ini."

"Tentu. Anda akan dilatih dengan baik sampai menjadi prajurit sejati."

Pria berkepala plontos kembali berpikir.

"Oh ya. Dari mana anda mendapatkan darah Sagit.  Berapa banyak orang lagi dalam keluarga anda yang seperti anda?" cecar pria berpedang.

"Kakek buyutku seorang prajurit Sagit. Bayaran. Dia dan kawan-kawannya hidup berpindah-pindah di wilayah barat pada saat perang dengan kaum sihir berlangsung. Setahuku dalam generasi ini, aku satu-satunya orang yang berdarah Sagit."

"Jadi bagaimana keputusan anda?"

"Apa kita akan berperang melawan kaum sihir lagi?"

"Belum. Tapi kita harus mempersiapkan diri. Tidak tahukah anda kabar kalau kaum sihir telah mencelakai putri Raja Philos?"

Pria berkepala plontos menggeleng.

"Itu menjelaskan kebingungan anda. Baiklah, kesempatan terakhir, anda ikut atau tidak?"

“Entahlah. Selama ini tenagaku selalu dihargai dengan uang. Apa jadi prajurit juga sepeti itu?"
Pria di depannya tersenyum.

"80 Durha sebulan. Selama pelatihan berlangsung seluruh keperluan makan minum akan ditanggung kerajaan."

"Wah, tawaran yg menarik, Tuan. Aku ikut. Kapan kita mulai?"

"Temui aku besok sebelum matahari terbit di tempat ini. Bawa barang-barang secukupnya, karena anda  akan dibawak ke suatu tempat untuk jangka waktu yang belum ditentukan."

"Aku sudah biasa bepergian. Itu saja?"

"Satu lagi. Pelatihan prajurit Sagit ini, termasuk pertemuan kita malam ini sangat rahasia. Jangan coba-coba menceritakannya kepada siapapun termasuk orang-orang serumah anda."

“Aku rasa itu mudah. Aku meninggalkan istri dan anakku jauh di kerajaan lain.”

“Baik, Tuan. Sampai ketemu besok. Jangan main-main dengan kami. Kota ini penuh dengan mata-mata kerajaan.”


Pria berkepala plontos mengangguk.

-----

(bersambung)

ilustrasi gambar dari: guides.gamepressure.com

Komentar

pical gadi mengatakan…
Makasih mampirnya mas. Salam