Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Basalto Terakhir [70]



Masih tersisa cahaya kehidupan di wajah putri Talia yang sedang tertidur pulas entah untuk berapa lama. Kutuk tidur abadi yang menimpanya membuat sudah berhari-hari di terbujur di atas tempat tidurnya.

Setiap pagi, ibunya, ratu kerajaan masuk ke kamar untuk menyingkapkan penutup jendela lalu kemudian menutupnya kembali menjelang petang. Saat ini, perhatian seperti itulah satu-satunya yang bisa dilakukan untuk sang putri tercinta.


Kesedihan nampak begitu jelas pada raut wajah ratu juga raja dan penghuni istana yang lain.
Akhir-akhir ini malam di istana menjadi begitu sepi, tanpa keceriaan dan celotehan putri Talia. Raja Philos sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dengan menenggak bergelas-gelas anggur atau menatap cahaya pelita seorang diri untuk memaksa matanya tertutup.

Nasihat dan hiburan orang-orang terdekat seperti para sesepuh, pejabat istana, bahkan dari ratu sendiri tidak terlalu dipedulikan lagi. Musibah yang menimpa putri tunggalnya itu benar-benar telah menyita seluruh pemikiran emosinya.

Jalannya pemerintahan kerajaan pun lebih banyak diserahkan kepada pejabat-pejabat istana terkait.
 Satu-satunya hal yang dipedulikannya saat ini adalah kesembuhan putrinya. Serta mencari segala cara untuk menemukan penyihir yang telah berani melakukan kutuk Tidur Abadi itu.

Tapi malam ini raja terlihat sedikit ramah. Dia menyetujui permintaan ratu untuk mengundang seorang anak muda pemain Poligra, sejenis alat musik yang terdiri dari lusinan senar, untuk menghiburnya dengan lagu-lagu rakyat. Ratu sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan kesenian seperti itu, tetapi dia ikut senang karena raja terlihat begitu menikmati pertunjukan itu.

 Awalnya ratu begitu antusias karena untuk pertama kalinya semenjak kejadian yang menimpa sang Putri, raja bersedia menikmati pertunjukan seperti itu.

Namun lama-lama ratu menjadi kesal, karena sudah belasan lagu dimainkan dan malam sudah semakin larut, tetapi raja belum mau beranjak dari ruangan tempat pertunjukkan tunggal Poligra diadakan.

Seorang pelayan masuk dan membisikkan sesuatu kepada Raja. Kabar itu sepertinya lebih mampu menarik perhatiannya. Raja pun memberi perintah kepada pelayan tersebut yang diikuti oleh anggukan kepala pelayan, sebelum meninggalkan kembali ruangan itu.

“Maaf, Sayang. Aku hendak menerima panglima Thar. Sepertinya dia membawa kabar penting.”
Ratu mengangguk paham. Dia pun berdiri untuk ikut meninggalkan ruangan itu.

“Bawa serta anak muda yang berbakat ini dan berikan upah yang setimpal,” sembari memberi isyarat melalui gerakan tangan kepada pemain Poligra agar segera menghentikan permainan musiknya. Dia pun mengikuti ratu meninggalkan ruangan itu.

Kini ruangan besar yang biasa dipakai menerima tamu-tamu kerajaan itu menjadi sepi. Raja seorang diri hanya ditemani beberapa pelita yang bersinar malu-malu sampai panglima Thar masuk.

Kali ini dia tidak mengenakan pakaian kebesarannya sebagai panglima kerajaan seperti biasa. Masih terlihat sisa-sisa peluh pada wajah dan lehernya, pertanda baru saja sampai dari tempat yang jauh.
Raja Philos mempersilahkan panglima Thar duduk pada kursi yang bersisian dengannya.

“Aku harap kamu membawa kabar baik, Panglima.”

“Maaf mengganggu isitrahat anda, Paduka. Aku pikir harus memberi kabar segera agar kami dapat bergerak cepat. Sampai saat orang-orangku di lapangan berhasil merekrut lebih dari 100 orang kaum Sagit. Dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah sampai latihan dimulai tujuh hari lagi.”

“Wah, kalian bekerja cukup cepat, Thar.”

Panglima Thar mengangguk.

“Kami pikir peristiwa yang menimpa tuan putri itu ancaman serius untuk kerajaan kita. Malam ini juga aku mohon izin Paduka untuk membangun tempat pelatihan prajurit baru.”

Raja Philos mengusap dagunya.

“Menurutmu berapa kapasitas tempat pelatihan itu, Thar?”

“Kita siapkan tempat untuk 500 orang. Sudah ada seratus lebih, kemudian ada tambahan 60 orang dari prajurit kita yang ada sekarang.  Sisanya akan kami cari ke seluruh pelosok kerajaan.”

Raja Philos berdiri dan berjalan perlahan sambil berpikir keras.

“Katakan sekali lagi, Thar. Katakan kalau rencana kita ini tidak akan membawa kerajaan kita kepada keadaan yang lebih berbahaya.”

“Tidak, Paduka. Selagi kita bisa menjaga kerahasiaan seluruh rencana kita sampai waktunya tiba.”

Raja Philos sampai di depan Panglima Thar. Saat itu di atas meja tamu ada dua lilin yang sedang menyala. Raja Philos menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk memadamkan salah satu lilin itu. 
Asap putih tipis pun melayang tipis dari sisa api pada sumbu lilin.

“Aku tidak ingin berasumsi, Thar. Menyembunyikan satu orang mungkin pekerjaan mudah, tapi 500? Katakan sesuatu yang membuatku berpikir rencana kita tetap akan dijalankan, sekalipun seluruh penduduk Zatyr dan kaum sihir mengetahui kita sedang melatih 500 prajurit Sagit yang baru.”

Panglima Thar seperti berpikir keras.

“Paduka, aku berpikir kalaupun rencana kita ini terbongkar, semua orang yang mengetahui musibah yang menimpa tuan putri akan maklum. Bukankah penyihir sialan itu yang duluan mencari masalah dengan kerajaan kita? Inilah jawaban kita, Paduka.”

Raja Philos menghembuskan nafas panjang.

“Kalau begitu aku percayakan sepenuhnya rencana ini kepadamu, Thar. Oh ya, kamu bisa menggunakan kembali fasilitas kita di lembah Siris. Tempat itu cukup strategis, dekat dengan sumber air, terpencil namun jangkauan ke istana bisa dilakukan dengan cepat.”

Panglima Thar mengangguk.

“Aku juga berpikir seperti itu, Paduka. Aku akan bergerak mulai malam ini. Dimulai dengan mencari  persediaan kayu dan para pekerja.”

“Baik, segera siapkan. Besok aku akan berbicara dengan bendahara kerajaan untuk membereskan masalah keuangannya.”

Tak lama kemudian, Panglima Thar pamit undur diri dari tempat itu.


Raja Philos melangkah keluar ruangan. Saat sampai pada jendela terdekat, dia menatap rembulan lekat-lekat membiarkan hatinya bercakap-cakap dengan malam yang semakin kelam. Selama memerintah kerajaan, baru sekali ini dia merasa keputusan-keputusannya menjadi begitu penting untuk menentukan masa depan kerajaan Zatyr.

(bersambung)
Ilustrasi gambar dari: seanopher.tumblr.com

Komentar

Unknown mengatakan…
Good post mas
pical gadi mengatakan…
Makasih mas. Salam