Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Pengelana Malam


Aku seorang pengelana malam. Menunggangi angin dan bergelayut di antara awan-awan. Langit hitam jadi latar pentas sebuah drama panjang yang melelahkan karena aku tidak akan pernah tahu akhir drama ini. 
---
Tidak banyak manusia yang betah berlama-lama di bawah gelap malam. Salah satunya manusia itu. Seorang wanita, masih muda kurasa, dengan langkah yang gontai dan rambut panjang yang melambai-lambai ditiup angin darat. Dia selalu membiarkan ujung kakinya dibelai laut yang warnanya sehitam langit.

Setiap kali mendapatinya mencurahkan air mata yang hangat ke atas pasir, aku sejenak berhenti untuk memastikan dia memang sedang bersedih. Bukan sedang berteka-teki dengan desah ombak yang mencoba meluruhkan sepi malam.

Biasanya aku tidak suka bertegur sapa, bahkan dengan angin dan laut sekalipun. Tapi malam ini bulan purnama berbaik hati menyingkapkan raut wajah wanita muda itu. Sesungguhnya dia begitu cantik. Aku merasa nyaris jatuh cinta padanya.

Aku pun meminjam kelebat angin dan butir-butir pasir agar bisa menyusuri jejak-jejak yang ditinggalkannya di pantai.

“Kehilangan sesuatu, Nona?”

Dia terkejut lalu berbalik. Nampak bintang-bintang dalam matanya dari jarak sedekat ini. Sayang sekali, bintang itu seperti sedang meredup.  

Dia belum menyahut sedikitpun selain memandangi lekat-lekat diriku, seperti hendak memastikan kehadiranku bukan sebuah fatamorgana.

“Maaf, Tuan. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Akhirnya suaranya yang lirih terdengar juga.

“Tidak, kurasa. Aku bukan penduduk di sekitar sini.”

Pandangannya menajam.

“Tapi rasanya anda begitu familiar. Ya, aku ingat… aku sering sekali memimpikan wajah anda, Tuan.”

Bintang-bintang di matanya tiba-tiba berpendar.

“Katakan, Tuan. Katakan bagaimana rasanya terlelap di siang hari dan berkelana di malam hari? 
Bagaimana rasanya menjadi bayang-bayang malam? Bagaimana rasanya tak perlu terbelenggu pada raga yang kaku ini?”

Kini giliran aku yang terkejut. Tapi sepertinya aku harus memuaskan dahaga jiwa wanita muda ini.

“Kata-kata sama kakunya dengan raga, Nona. Tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan dua dunia yang jauh berbeda.”

Dia memalingkan pandangan ke arah lautan luas yang berwarna keperakan ditempa purnama. 
Kakinya pun dilangkahkan perlahan. Bibir lautan kembali membelai kaki-kaki itu.

“Tahukah anda, setiap kali berada di tempat ini, aku ingin lautan segera mengantarku pada keabadian malam. Sepertinya itu satu-satunya cara mengakhiri pahitnya kehidupan…”

Aku mulai paham. Dari siluet jiwanya kini terlihat jelas, belati cinta telah menyayat hatinya dalam-dalam, meninggalkan luka yang menganga dan menyakitkan. Selain waktu, mungkin memang kematianlah yang bisa menyembuhkan luka itu.

“Nona,” sahutku mencoba tegar.

“Bukankah kehidupan sesungguhnya adalah rangkaian pilihan? Anda beruntung masih memiliki kesempatan itu. Sedangkan aku… aku tidak punya pilihan lain lagi.”

Wanita muda terdiam.

Benturan keras dan menyakitkan membuatku terjerembab ke atas pasir. Tubuhku terurai dan melebur bersama pantai, laut dan angin yang berhembus. Di saat-saat penghabisan, aku masih sempat memandang wanita muda bersama seorang berjubah hitam, seorang pengelana malam lainnya.

Jemari wanita muda dikecup dengan mesra sebelum pemandangan itu menghilang seperti layar yang menutup pentas sebuah drama.

---

Aku seorang pengelana malam. Menunggangi angin dan bergelayut di antara awan-awan. Langit hitam jadi latar pentas sebuah drama panjang yang melelahkan karena aku tidak akan pernah tahu akhir drama ini. 

Bulan purnama semakin merajai langit. Aku mendengar seruan-seruan mereka, para nelayan yang hendak melaut. Aku mendekat tanpa membuat mereka menyadari kehadiranku.

Seorang dari mereka berlari tergopoh-gopoh ke arah pemukiman dan enam orang lainnya mengelilingi tubuh seorang wanita, masih muda kurasa, yang terhampar di atas pasir. Walaupun purnama masih menyingkapkan sisa-sisa kecantikannya, wajah wanita muda itu telah kaku dan memucat.

Wanita muda itu, dia tidak akan merasakan lagi sakitnya luka karena cinta. Dia telah membuat pilihan.


***

pertama kali ditayangkan di kompasiana.com
ilustrasi gambar dari: www.jigidi.com



Baca Juga:

Lin dan Ibu Peri


 photo Jangancopasing.jpg

Komentar

pical gadi mengatakan…
Makasih ibu jarinya bu Lis
^_^
Unknown mengatakan…

Salam para POKERMANIA....
POKER99 situs Poker Online Terbaik & Terpercaya mengadakan
Hot Promo :
- Bonus Extra Deposit 10% ( Max 50Ribu )
- Dalam 1 hari bonus hanya di berikan 1 kali
- Maksimal bonus yang di berikan 50.000 / hari
- Pengambilan bonus harus di konfirmasi ke live chat terlebih dahulu
- Minimal turn over harus mencapai 3x dari nilai deposit anda
NB : jika ada terdapat unsur kecurangan maka bonus akan kami tarik kembali
Mari segera daftarkan diri anda dan nikmati bonus deposit nya setiap hari

Jangan Lupa Memberitahukan Promo Menarik ini kepada Kerabat Anda.
Silakan hubungi kontak cs kami untuk info"nya biar lebih jelas

LIVECHAT : http://bit.ly/1TTxFqq / http://bit.ly/1WCbo4A
FB : http://bit.ly/1TP3NJ2
PiN BB : 5C0356AE
WA : +669 8314 500
YM : Poker99_cs1
Lipul mengatakan…
Keren sang pengelana malam nya bang pical. Main2 ke blog ku bang. ☺
Ninggalin kompasiana pindah ke lipul.id sama majas.co.
pical gadi mengatakan…
Sipp. Sudah titip jejak ya di sana. Jejaknya juga saya taruh di blogroll planet-fiksi :)
pkv mengatakan…
Yapp bang.. trims yo.. :)