Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Saksi Tidak Lihat


Pada sebuah siang yang hangat, kepala dusun sedang menengahi kasus pencurian yang menimpa salah satu warganya. Kumisnya yang lebat bak sulur beringin naik turun seiring anggukan kepalanya mendengar curhat Pak Oploh. Warga terkaya di dusun itu mengadu papan-papan yang disiapkan untuk membangun rumah kudanya tiba-tiba hilang.

“…jadi begitu ceritanya Pak Kadus. Saya punya saksi kalau pencurinya itu dia,” tuding Pak Oploh dengan telunjuknya yang tambun pada seorang bapak lainnya di sudut balai dusun.


Pak Landoh yang dituding sekali lagi melambaikan tangannya.

“Sumpah pak Kadus, demi Allah saya tidak mengambil kayu pak Oploh…”

Balai dusun pun kembali gaduh. Sebagian warga mendukung Landoh. Sehari-harinya bapak bertubuh cungkring ini bekerja sebagai tukang mebel. Memang orangnya agak pendiam, tapi warga dusun tahu kalau dia orang baik-baik. Tidak mungkin dia melakukan perbuatan seperti itu.

Tetapi ada juga warga yang berpihak kepada Pak Oploh. Terutama warga yang sering dapat pinjaman duit, walaupun bunganya mencekik leher.

Gubrakk!!

Kepala dusun menggebrak meja sambil menyuruh semua warga yang hadir diam. Tapi suasana balai dusun masih saja gaduh. Mereka baru terdiam saat meja yang digebrak kepala dusun roboh berjatuhan ke lantai. Sudah cukup lapuk memang.

Kepala dusun terperangah sesaat. Tapi langsung fokus kembali pada kasus yang sedang ditangani. Setelah berpikir tujuh belas detik, dia pun bertitah lagi,

“Panggil saksinya! Siapa saksinya?”

Seorang ibu-ibu muda berbaju merah muda maju ke depan.

“Saya, Pak Kadus. Nunung…”

Beberapa warga berteriak riuh. Mereka tahu, si Nunung ini memang sudah lama tidak suka sama Landoh. Ada yang bilang gara-gara kisah cinta yang belum kelar di masa lalu.

“Hmm…. kamu, Nung. Ayo cerita bagaimana kejadiannya?”

Sebelum memulai, Nunung memandang Landoh tajam. Landoh hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Tadi malam saya lihat dari balik jendela, si Landoh itu mengendap-endap di dekat rumah Pak Oploh, persis di dekat tumpukan papan. Nah, tadi pagi ketahuan kalau papan-papan Pak Oploh hilang dicuri orang. Siapa lagi coba yang punya kepentingan kayu perkayuan kalau bukan dia, Pak Kadus?”
Kepala dusun mengalihkan pandanganannya ke Landoh. Dia kembali melambaikan tangan, lalu menyahut

“Tadi malam memang giliran saya yang ronda, Pak Kadus, berdua dengan si Otong. Tapi pas lewat depan rumah pak Oploh, si Otong sedang mampir kencing di semak-semak, jadi mungkin Nunung melihat saya hanya sendiri. Tapi sumpah, saya tidak sampai masuk ke halaman Pak Oploh. Saya juga tidak mengendap-ngendap…,” Londoh membela diri.

Otong yang duduk di barisan depan warga mengangguk-angguk membenarkan.

“Kamu lihat ada yang mencurigakan di sekitar rumah Pak Oploh? Papannya masih ada di sana nggak?” tanya kepala dusun lagi.

“Wah, saya tidak merhatiin itu, Pak. Kalau yang mencurigakan… tidak ada!”
Kepala dusun kembali memandang Nunung.

“Kamu lihat sendiri si Landoh ngambil kayunya?”

Nunung mengangguk ragu-ragu, lalu menggeleng-geleng dengan pasti.

“Huuu….!” warga kembali berteriak.

“Lah, saksinya bagaimana ini, Pak? Katanya saksi tapi kok tidak melihat langsung,” kepala dusun menghardik Pak Oploh.

Tapi sepertinya Pak Oploh tidak terlalu memerhatikan, karena sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat memerah, lalu mengangguk-angguk gugup.

Setelah menurunkan HP, Pak Oploh melirik kepala dusun malu-malu.

“Ada ada?” tanya kepala dusun.

Pak Oploh garuk-garuk kepala yang tidak gatal, sambil senyum-senyum tidak jelas.

“Ini Pak Kadus, itu… kayu-kayunya sudah ketemu.”

“Haah?! Jadi siapa yang ngambil?”
“Bukan siapa-siapa. Itu… si Bujang, jongos saya. Rupanya tadi malam papan-papannya dia pindah ke dalam gudang, takut kehujanan.”

“Ya ampun! Sebelum lapor ke saya koordinasi internal dulu kek!” kepala dusun melotot menahan amarahnya.

Sementara itu Nunung juga jadi gelisah karena telah menuduh yang tidak-tidak kepada Landoh. Untunglah Landoh hanya geleng-geleng kepala tanda maklum.

“Maaf, Pak Kadus. Maaf warga sekalian…”

Terdengar koor panjang warga karena kesal.

“Ayo, bubar, bubar!” seru mereka sembari membubarkan diri masing-masing.

Nunung buru-buru mau pamit, tapi kepala desa menahannya dan mengancam mencoret namanya dari daftar warga dusun sebelum dia meminta maaf kepada Landoh.

---



pertama kali ditayangkan di kompasiana.com 
ilustrasi gambar dari:www.open.edu




Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Jembatan Aspirasi







 photo Jangancopasing.jpg

Komentar

pical gadi mengatakan…
Makasih sudah mampir pak. Salam