Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Purnama di Linimasa



Malam hampir paripurna
ketika kamu mengecup purnama
dan membaringkannya di sisi pembaringan
kamu lantunkan lagu tidur terindah
seolah esok akan berpisah.


Pintu langit masih terbuka
tidak peduli anak-anak negeri berbantah
lalu menghunus pedang dan menikamkannya
pada jantung yang berdenyut memompa darah.

Ibu bumi juga masih berbaik hati
tidak peduli anak-anak negeri saling mengutuk
meludahkan sumpah serapah
pada saudara-saudara sedarah.

Malam hampir paripurna
saat kamu menimang purnama yang telah terlelap lelah
lalu mengapungkannya di linimasa
berharap kegelapan di seberang sana sirna
sehingga anak-anak negeri melihat wajah saudara-saudara sedarah

seperi melihat dirinya sendiri di dalam kaca.


---

ilustrasi gambar dari http://pinterest.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Koper Pengetahuan dan Cinta



Komentar