Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Gelora


Matamu telah terpejam jadi siluet horizon
aku bisikan mantra semesta
agar eros di balik tirai sukmamu
segera menggelegak
dan penuhi dirinya dengan gelora asmara.


Debu panggung purnama telah kubersihkan
orchestra cakrawala telah bersedia
mainkan lagu-lagu cinta terindah
ciptaan Penguasa mayapada
untuk pertunjukan kita

Barisan mantra terakhir
telah dihembuskan
gelora asmara
datang
kini

Kamar kita menggelap
cahaya yang tersisa hanya dari cincin
di jarimu
dan Jariku

Tanganmu menggenggam semakin erat
menghentak.

---

kota daeng, 4 November 2017


ilustrasi gambar dari https://www.free-hdwallpapers.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Gadis Pembungkus Kado




Komentar