Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Janji itu Utang Nurani



Malaikat mendengar setiap janji terucap
lalu menulisnya pada bilah-bilah
peti matimu.

Kelak beratnya dosa dan amalan
akan ditimbang pula dengan kata demi kata
yang kamu torehkan di atas hati penuh pengharapan.


Setiap doa
setiap ikhtiar
setiap langkah dan kerja tanganmu
untuk mengubah kata-kata jadi kenyataan
seperti mendung yang akhirnya limpahkan hujan
akan menjadi paling terakhir
yang diingat orang darimu.

Jadi belajarlah pada matahari
yang tidak pernah ingkar menerangi
atau pada pagi
yang tidak pernah ingkar menemani.

Setiap janji adalah utang pada nurani

bahkan tulisan pada peti mati.

---

kota daeng, 9 November 2017


ilustrasi gambar dari https://john.do/promise/


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Setelah Politisi Berkicau




Komentar