Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Udin Broken Heart


Udin duduk sendirian di sudut balkon yang gelap. Lampu balkon sengaja dimatikan, agar tidak ada yang melihatnya tersipu-sipu malu. Sepertinya cowok ini lagi asyik membaca chat demi chat whatsapp di layar HP-nya. Tapi setelah dilihat lebih dekat lagi, ternyata hanya satu chat saja yang dipelototi dari tadi.

Chat itu kiriman dari Mayang, cewek sebelah kompleks yang selama ini ditaksirnya. Kata-katanya sebenarnya singkat sih. Hanya seperti ini,
Iyaaa. Mayang mau jadi ceweknya bang Udin.
Lalu ada emoticon hati, couple dan bunga-bunga aneka rupa. Aih, pokoknya romantis abis. Rupanya Udin baru habis nembak Mayang via whatsapp dan alhamdulilah, lamarannya diterima.
Sejak saat itu, wajah Udin selalu terlihat berseri-seri. Kemana-mana senyumnya selalu tersungging. Mau ke warung bakso, ke minimarket di ujung gang, ke dalam kamar, bahkan saat tidur pun tetap tersenyum.
---
Hari ini Udin tidak ada jadwal kuliah. Tadi dia tetap mau datang ke kampus untuk memberi kejutan bagi Mayang. Mereka kebetulan satu fakultas, hanya beda jurusan dan angkatan. Rencananya usai Mayang kuliah, Udin akan mengajaknya nonton film baru yang mengisahkan kisah cinta-cintaan anak SMU itu. Ini genre favorit Mayang banget. Mumpung baru selesai gajian. Maksudnya baru dapat jatah jajan sebulan dari orang tua.
Kalau selama ini Udin tidak pusing sama yang namanya perawatan wajah. Pagi ini dia berdiri cukup lama di depan cermin, hanya gara-gara sebiji jerawat yang datang tidak bilang-bilang. Saking lamanya di dalam kamar, emak sampai berpikir Udin baru saja menenggak oli mesin. Untunglah saat pintu kamar digedor Udin masih terlihat sehat walafiat.
Usai berdandan hari sudah menginjak siang. Udin pun cepat-cepat ke kampus.
Setelah dosen yang mengajar mata kuliah Pengantar Manajemen keluar dari kelas Mayang, Udin mengintip dari jendela kelas untuk mencari dimana gerangan kekasih hatinya berada.
Ah, dia disana, di sebelah kiri ruangan, duduk dengan manis dalam balutan kemeja merah jambu dan bawahan jeans.
Tapi tunggu dulu. Kok, disampingnya ada cowok lain? Mereka sedang memandangi sesuatu di layar HP si cowok. Sesekali Mayang menunjuk-nunjuk. Yang bikin tidak enak perasaan itu mereka berdua terlihat mesra sekali.
Udin pun bergegas masuk ke kelas dan menghampiri Mayang. Tapi dia pasang muka dingin ke arah si cowok.
Maya terkejut setengah hidup melihat kedatangan Udin yang tiba-tiba itu.
“Say, sudah selesai kuliah kan?” tanya Udin cepat. Dalam sekejab senyum cerahnya terlihat lagi.
Mayang terkejut lagi dengan panggilan “Say” dari Udin itu, namun dia tetap mengangguk, “…tapi—“
“Yuk, nonton Surat Cinta untuk Karlos. Abang yang bayar.”
Maya terlihat bingung. Tapi si cowok langsung menyambar, “Ini, kami lagi pesan tiket-nya, online.”
“Siapa lu?” sahut Udin jengkel.
“Ini… ini Tom, Bang. Temen Mayang. Sori yaa, dia tadi ngajak duluan.”
“Tapi… kamu kan pacar aku, Say. Mestinya aku yang lebih berhak.”
“Haaah?!” Mayang dan temannya tambah kaget lagi. Tapi dalam tempo dua detik, mata Mayang membulat pertanda baru menemukan sebuah fakta yang hilang di antara sel-sel otaknya. Dia kini berdiri menjajari Udin.
Wait… Bang, jangan-jangan ini gara-gara WA semalam, yak?”
Gantian Udin yang mulai bingung.
“Iya,” sahutnya.
Seketika itu meledaklah tawa Mayang.
“Bang, sorry, bang. Tadi malam itu, HP Mayang dipegang si Lia tetangga rumah. Dia pakai nonton drakor sampai kuotanya abis. Isengnya kumat, jadi dia ngerjain abang.”
“Jadi… jadi, yang whatsapp-an tadi malam si… si Lia?” tanya Udin lemas.
“Iya, Bang. Sorry, ya. Mayang tidak sempat lagi klarifikasi lagi, soalnya kuotanya abis. Ini baru mau diisi.”
“Jadi… jadi,” Udin hampir nangis.
Mayang tersenyum geli begitu pula cowok di sampingnya. “Udah, Bang. Jangan sedih. Mayang masih mau kok temenan sama abang. Kan Abang Udin cowok paling baik se-Indonesia Raya. Tapi sekarang…,”
Mayang meraih tasnya dari atas meja.
“…maaf, ya. Mayang sudah janjian sama Boy mau nonton Surat Cinta untuk Karlos. Yuk, Boy!”
Kedua sejoli itu pun meninggalkan Udin yang nelangsa.
“Daah, Bang Udin,” lambai Mayang dari pintu kelas. Tapi melihat wajah Udin yang mirip balita kehilangan mainan itu, dia pun kembali sejenak untuk memberi penghiburan. “Udah, Bang, jangan sedih. Anggap saja chat tadi malam itu hoax. Tapi hoax yang membangun… Kan gara-gara itu bang Udin jadi tambah baek sama Mayang. Iya kan, Bang?”

Udin kita benar-benar tidak mampu lagi menahan tumpahan air matanya. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memanggil emak di rumah.

---
ilustrasi gambar dari https://news-medical.net
pertama kali ditayangkan di kompasiana

Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Konvoi






Komentar

vitha mengatakan…
Kerenn
pical gadi mengatakan…
Makasih mampirnya Vitha