Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Salah Tampar




Sudah tiga setengah jam penumpang ditelantarkan. Mestinya ada kompensasi dari maskapai, entah itu makanan, kudapan atau paling tidak permohonan maaf bertubi-tubi. Tapi nihil.

Akhirnya para penumpang, termasuk Teddy dan Jojo bersatu padu menumpahkan amarah pada petugas darat. Memang jam digital di salah satu pojok ruang tunggu sudah menunjukkan pukul 23.10 malam, jadi hampir pasti para penumpang telah mengisi perut mereka. Tapi sekalipun demikian, keterlambatan penerbangan seperti ini bisa membuat sari-sari makanan menguap entah ke mana.


“…pesawat pengganti sedang menuju ke sini, Pak. Mohon kesabarannya…” untuk kesekian kalinya petugas darat pria yang bertubuh ceking berusaha menenangkan para penumpang. Sekalipun ceking, dua orang petugas wanita lainnya berusaha bersembunyi di balik tubuh itu sambil sesekali menimpali jawaban si pria.

Para penumpang tidak mau mengerti,

Kok belum sampai-sampai?!”

“Iya, kamu bohong ya?!”

Dan jawaban tak nyaman lainnya meluncur dari mulut penumpang.

“…pokoknya saya mau duit saya kembali!” Teddy pun ikut bersuara keras. Dia tidak menyangka seruannya itu mengalihkan perhatian penumpang yang lain. Lalu mereka kompak memandang Teddy, yang saat ini mengenakan jaket dan jelana tiga perempat berbahan jeans dan sepatu sneaker kusam. 
Jojo menyoleknya dari belakang.

“Mohon maaf, Pak. Refund baru diberikan jika ada pembatalan penerbangan…,” sahut petugas.
Teddy yang mulai merasa di atas awan tidak mau mengalah. Dia langsung memotong penjelasan petugas di hadapannya.

“Kalau pihak maskapai tidak mau, saya akan gugat! Kita bawa ke jalur hukum!”

“Ya, betul itu,” bersahut-sahutan penumpang yang lain.

Petugas tetap berusaha tenang. “Anda ini anak muda, generasi milenial, mestinya kalau punya kuota coba dicari berita tentang kompensasi keterlambatan pesawat. Jangan asal ngomongnya…”
Wajah Teddy memerah. “Eh, bapak tidak sopan ya sama penumpang. Bisa saya a…”
“…silahkan! Kami selalu berusaha menjaga sopan santun terhadap penumpang. Tapi kalau ada penumpang yang memang cari gara-gara, udah gitu jelek lagi… kami melawan!”

Teddy tidak bisa lagi menyembunyikan emosinya. “Kurang ajar!” lalu mengangkat tangannya untuk 
menampar si petugas.

Plaaaakkk!!!

Suara tamparan terdengar keras.
---
Suara pengumuman dari pengeras suara membangunkan Teddy yang terlelap di atas karpet ruang tunggu.

Teddy pun bangun sambil mengerjab-ngerjabkan matanya. Sekarang sudah jam 21.45, terakhir kali Teddy melihat jam digital itu pukul 21.10, artinya dia sudah tertidur kurang lebih setengah jam.

“Eh, Bro. Ayo siap-siap, panggilan boarding tuh.”

Teddy berbalik ke asal suara itu. Jojo sedang memunguti tas ransel dan goodie bag-nya dari atas lantai.

“Sial. Tadi aku mimpi penerbangan kita delay, lama banget. Sampai nampar petugasnya segala gara-gara marah.”

Jojo mendengus. “Pantes…!!”

“Pantes? Maksudnya?”

“Tadi kamu ngigau, terus nampar aku.”

“Haaah! Masa sih, Bro?” Teddy seketika merasa bersalah.
“Iya. Tapi tidak apa-apa. Kalau kamu tidak mimpi nampar orang, kita berdua bisa-bisa masih tertidur dan dicariin orang. Yuk!”

Teddy pun mengangkat tas yang tadi dipakai bersadar ke balik punggungnya lalu mengekori langkah Jojo, sambil berpikir.

Untung tadi mimpi menampar petugas pria, kalau mimpi mencium petugas wanita yang manis kayak gulali, apa yang akan terjadi? 



------

gambar dari https://raygano.com



 photo Jangancopasing.jpg

Komentar