Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Mengoyak Senja



Bulan setengah purnama sedang bercakap-cakap dengan senja yang bermuram durja. Dengan setengah cahaya seperti ini, rembulan jadi lebih mirip lampion yang nyaris padam daripada lampu langit yang gagah perkasa. Tapi dia tetap berusaha menghibur senja yang kehilangan kerlip bintang-bintangnya, sejak ditinggalkan kekasih.

Sebentar lagi keduanya akan saling mengucapkan salam perpisahan yang pahit. Rembulan beranjak ke timur sedangkan senja beranjak ke barat, entah kapan bertemu kembali.


Kegetiran yang sama sedang melanda hati lelaki dan wanita di bawah awan berwarna tembaga. Awan-awan itu sedang menyeret selimut malam kembali ke langit.

Air mata meleleh di sudut mata wanita muda belia. Syal merah hati melingkari leher jenjangnya. Taman remang-remang tidak bisa menyembunyikan paras cantiknya yang kini ditutupi mendung kelabu.

“Mas Bram tahu kan, aku tidak akan memaksa. Seperti halnya aku tidak pernah memaksa Mas jatuh cinta kepadaku,” tuturnya getir.

Lalu sepi menghanyutkan kalbu ke tengah rona senja sebelum lelaki yang dipanggil Bram itu buka suara.

“Ya, aku tahu. Tapi pertemuan kita ini membuktikan kamu belum rela melepasku, Ambar. Aku seperti musafir yang baru saja menemukan oasis, tapi kamu jadi angin yang membawaku kembali sini, ke tengah-tengah padang gurun tak bertepi.”

Bram berdiri dari kursi taman dan memandang wajah Ambar lekat-lekat, seolah mencari sesuatu yang hilang di situ. Dia tidak akan menemukannya, sebab kini Ambar sedang menyembunyikan ketegarannya dalam-dalam.

Ambar meraih tangan Bram. Tapi Bram perlahan-lahan melepasnya kembali.

“Kita sudah terlalu jauh melangkah. Dan… aku tidak ingin semakin jauh.”

Ambar terisak. Bram kebingungan, tapi dia berusaha tidak membiarkan hatinya larut dalam suasana melankolis ini sedikitpun. Beberapa helaan napas kemudian, Ambar berdiri dan menjajari Bram. 

Mata keduanya beradu.

“Kalau begitu, aku ingin memastikan oasis itu bukan aku, Mas. Atau gadis-gadis lain yang melakukan kesalahan yang sama denganku. Aku rela kehilangan Mas Bram, asal oasis itu benar-benar Mbak Sintia.”

Bram tertegun, lalu tahu-tahu tangannya tergerak untuk menyibak ujung rambut Ambar agar rona merah senja menyapu paras cantik itu sepuasnya.

“Aku telah sampai pada titik itu, Ambar. Oasis itu benar-benar Sintia dan anak-anak yang dititipkan pada kami.”

Air mata Ambar terus meleleh. Dia tahu, sebentar lagi mereka akan saling mengucapkan salam perpisahan yang pahit. Dia beranjak ke timur sedangkan Bram beranjak ke barat, entah kapan bertemu kembali. Maka sebelum Bram benar-benar berpaling, Ambar menahannya dengan kata-kata,

“Tidak adakah kecupan perpisahan untukku?”

Kening Bram mengernyit. Ujian apa lagi yang diajukan Ambar kali ini?

“Hanya sebuah kecupan dan… aku akan pergi selamanya dari kehidupanmu, Mas.”

Bram ragu-ragu. Tapi sesaat kemudian, bibir keduanya berpagutan.

mesra…

dalam…

jiwa keduanya berpadu…

sebelum rona senja menyapa sebilah pisau yang dikeluarkan Ambar dari bawah kardigannya. Pisau itu pun dihujamkan dengan deras.

---

ilustrasi gambar dari http://www.thisburundianlife.bi/chronicles/
pertama kali ditayangkan di kompasiana

Baca Juga Fiksi Keren lainnya:

Cawan Pengantin







Komentar

Fabina Lovers mengatakan…
Indah sekaligus getir, alangkah menyakitkannya jatuh cinta bukan pada padangan sendiri.
pical gadi mengatakan…
Benar itu. Terima kasih sudah mampir bu Fabina.