Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Cupid Salah Anak Panah

 


Di atas dahan jambu air, seorang bocah bertubuh subur sedang duduk mengasah anak panahnya. Di belakang punggungnya sepasang sayap berwarna putih bersih sedang ditangkupkan. Orang-orang mengenalnya sebagai Cupid, sang Dewa Asmara. 

Siang ini Cupid menanti sepasang sejoli yang biasanya melintas di persimpangan jalan kecil yang membelah kompleks perumahan, tepat di bawah pohoh jambu air itu.



Sang pemuda bernama Bejo, pedagang sayur keliling, sedangkan sang gadis bernama Tiwi, pedagang kerupuk, rempeyek dan aneka cemilan lainnya. Setiap hari mereka menjajakan dagangan door to door pada warga di sekitar situ. Entah kebetulan atau memang sudah suratan takdir, mereka kerap bertemu di persimpangan itu.

Setiap bertemu, masing-masing turun dari sepeda motornya. Lalu Tiwi membeli sayur mayur dagangan Bejo agar sesampai di rumah tinggal dibersihkan dan dimasak, tidak perlu bingung mencari sayur lagi. Sedangkan Bejo membeli dagangan Tiwi untuk dijadikan cemilan saat mengaso atau sambil menjajakan dagangannya.

Bisa saja mereka memang berjodoh, tapi bisa juga tidak. Siang ini, sang Cupid memastikan jawabannya lewat anak panah cinta yang sebentar lagi ditembakannya.

Setelah beberapa saat menunggu, terdengarlah samar-samar suara Bejo dan Tiwi dari arah berlawanan, masing-masing meneriakkan dagangannya. Cupid pun bersiap-siap dengan memasang anak panah di senar busurnya.

Tidak lama kemudian, Bejo dan Tiwi muncul. Saat kendaraan mereka nyaris bertemu, masing-masing menghentikan deru mesin kendaraannya dan saling menyapa.

"Loh, ini kerupuknya sudah hampir habis?"
Tiwi tersenyum memamerkan lesung pipinya.
"Itu, tadi di Blok D ada yang borong. Katanya buat catering gitu," sahut Tiwi.
"Syukurlah kalau gitu. Eh, beli peyek kacang lima ribu, ya.”
"Iya, Bang Bejo. Saya juga mau beli terong sama wortel, mm, sama sawi juga."

Saat mereka sedang asyik bercakap-cakap, Cupid mengarahkan panahnya dengan cermat dari atas. Setelah memantapkan bidikannya, ia pun melesatkan anak panahnya.

Clap!

Anak panah tidak kasat mata itu berhasil menembus dada Bejo dan terus menghujam jantung Tiwi.
Melihat anak panah tidak meleset dari targetnya, Cupid tersenyum senang.

Entah mengapa Bejo tiba-tiba merada hatinya berdesir hebat. Siang ini Tiwi terlihat beda dari biasanya, lebih manis.

Tiwi pun tiba-tiba merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tidak berani membalas lama-lama tatapan mata Bejo, jadi pura-pura menyibukkan diri dengan memilih-milih sayur.
Kok, Bang Bejo cara pandangnya beda dari biasanya ya? Kan jadi malu dipandangi seperti itu, batin Tiwi.

"Ehm, Dek Tiwi," ucap Bejo dengan nada mesra.
"Iya, Bang Bejo," sahut Tiwi. Dia melirik sesaat lalu kembali asyik dengan terong dan wortel. Tapi jantung semakin deg-deg plas.
"Ehm, nanti sore kamu ada acara gak?"
"Gak, Bang. Memangnya kenapa?"
"Nonton film yuk, di bioskop yang depan pasar sore. Aku yang traktir. Mau gak?"

Tiwi memandang tidak percaya pada wajah Bejo. Benarkah Bejo barusan mengajaknya jalan berdua?

“Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa kok,” ucap Bejo lagi. Respon Tiwi barusan membuatnya jadi ragu.

“Eh, mau, Bang Bejo. Iya, aku mau, kok.”

“Beneran?” Kali ini Bejo yang menatap tidak percaya.

 Tiwi mengangguk malu-malu, lalu kembali memalingkan wajahnya. Bejo pun tersipu.

 Setelah menyelesaikan transaksi mereka dan membuat janji bertemu, keduanya beranjak dari situ, meneruskan tujuan masing-masing ke arah yang berlawanan.

 Di atas dahan jambu air, Cupid menatap bahagia dua insan yang sedang kasmaran itu. Merasa misinya telah berhasil, dia mengambil ancang-ancang lalu terbang menuju ke langit biru.

 ---

Beberapa jam kemudian, tepatnya 15 menit sebelum jam 17.00, Tiwi sudah menunggu di depan pasar sore. Di situ ada sebuah halte yang sudah jarang digunakan, tapi masih terawat baik. Jadi Tiwi duduk manis di kursi halte sembari celingak-celinguk mencari sosok Bejo di antara keramaian manusia di sekitarnya.

 

Sore ini dia kelihatan begitu berbeda. Jika sehari-hari lebih sering mengenakan baju kaos berlapis sweater yang warnanya sudah pudar dibakar matahari dan nyaris tanpa polesan make up sama sekali, kali ini dia terlihat lebih trendy dan seksi. Dia mengenakan blus off shoulder lengan panjang berwarna merah hati dengan bawahan rok renda dan high heels. Bibirnya merah merona karena sapuan gincu. Rambutnya yang biasa diikat asal-asalan, kini pun dibiarkan jatuh menjuntai.

 

Bejo yang sekonyong-konyong muncul sampai menatap pangling.

“Kamu …,” ucap Bejo, “… Tiwi, kan?”

Tiwi tertawa kecil. “Iyalah, Bang, siapa lagi,” sahutnya.

Diam-diam dia juga mengagumi penampilan Bejo yang beda dari biasanya. Sepatu kets putih, celana blue jeans yang senada dengan warna jaket denimnya dan kaos hitam pekat menempel ketat di balik jaket denimnya. Ada kacamata hitam yang sudah disandarkan di atas dahinya.

Tiwi berniat memuji penampilan Bejo sore itu, tapi yang mampu keluar dari bibirnya hanya komplimen pada kacamata Bejo.

“Kacamatanya keren, Bang.”

Bejo tersenyum. “Terima kasih, tapi kapok aku. Tadi waktu ke sini sampai nabrak tiang listrik. Tidak biasa pakai kacamata item begini, soalnya. Eh, ayuk kita masuk sekarang. Sebentar lagi film-nya dimulai.”

 

Mereka pun berjalan bersisian menuju ke gedung bioskop yang tidak jauh dari halte itu. Awalnya di antara mereka ada jarak. Tapi saat memasuki beranda gedung, Bejo mulai memberanikan diri menggenggam tangan Tiwi.

 

“Gak apa-apa ya, Dek, aku pegang tangannya? Buat jaga-jaga. Soalnya di dalam banyak orang, takut kamu ketukar sama cewek lain,” goda Bejo.

Tiwi pun tersipu dan memasrahkan jemarinya dalam genggaman Bejo.

“Kita mau nonton film apa sih, Bang?” tanyanya.

“Hmm, apa ya tadi judulnya? Konjuring kalau gak salah.”

Kening Tiwi berkerut pertanda tidak mengerti. Bejo langsung menyambung, “Itu film komedi romantis kok…”

“Oh,” senyum kembali mengembang di bibir Tiwi.

Mereka kini membaur dalam keramaian bersama pengunjung bioskop lainnya.

 

---

Cupid nyaris tertidur di dalam kamarnya yang hangat. Dari atas rumah awan ini pemandangan malam hari selalu indah terlihat, apalagi malam ini bulan sedang bersinar bulat penuh.

 Karena teringat sesuatu, dia bangun meninggalkan tempat tidur dan beranjak ke lemari penyimpanan berbagai anak panah cinta. Besok dia harus bertugas pagi-pagi sekali jadi harus mempersiapkan anak panahnya lebih awal.

 Setelah memilah-milah berbagai jenis anak panah selama beberapa menit, dia terkejut. Anak panah berjenis Cinta Sejati masih ada di tempatnya, mestinya sudah digunakan siang tadi saat memanah Bejo dan Tiwi.

Jangan-jangan salah anak panah, batinnya.

 Cupid pun kembali mengamati semua anak panah yang tersisa untuk mengecek anak panah mana yang terpakai, seandainya anak panah siang tadi tertukar.

 Anak panah Cinta philia, masih ada, cinta eros, cinta monyet, cinta lokasi dan jenis-jenis anak panah cinta yang lain masih lengkap. Untunglah tidak butuh waktu lama baru Cupid menyadari anak panah cinta satu malam telah hilang dari tempatnya.

 “Astaga! Besok, Bejo dan Tiwi tidak akan saling mencintai lagi!” seru Cupid pada dirinya sendiri. Dia pun buru-buru membungkus kembali anak panah Cinta Sejati untuk digunakan kembali esok hari.

 ---

Sebelum matahari benar-benar naik ke atas kepala, Cupid telah bersandar di dahan jambu air, menanti sepasang sejoli yang biasanya berpapasan di jalan kompleks di bawah dahan jambu air tersebut. Sambil menunggu, dia harap-harap cemas. Anak panahnya diputar-putar di telapak tangannya.

 Setelah menunggu beberapa saat, teriakan Bejo dan Tiwi dari arah berlawanan mulai terdengar sayup-sayup, pertanda mereka telah mendekat ke tempat itu.

Mata Cupid berbinar. Dia segera memasang anak panah cinta sejati di busurnya.

 “Bang Bejo,” sapa Tiwi dengan nada manja begitu mereka berpapasan. Masing-masing telah mematikan mesin sepeda motornya. “Terima kasih ya, kemarin sudah dibayarin nonton sama makan malam.”

 Bejo tersenyum, “Aku juga mau terima kasih, sekaligus minta maaf, karena salah pilih film. Hihi… aku pikir film romantis, ternyata film horor.”

“Nggak apa-apa kok, Bang,” sahut Tiwi sembari mendekat ke bak dagangan sayur milik Bejo. “Eh, ada mentimun, harganya berapa ini?”

Keduanya kemudian larut dalam percakapan yang hangat.

Cupid mengurungkan niatnya. Dia mengendorkan anak panah cinta dari busurnya. Bejo dan Tiwi sepertinya tidak perlu dipanah lagi untuk kedua kalinya.

Mata Cupid sangat terlatih mengenali aura orang-orang yang sedang jatuh cinta. Dan berdasarkan pengalamannya selama ini, tinggal masalah waktu saja sebelum Bejo dan Tiwi benar-benar saling menyatakan cinta. Aura cinta seperti ini biasanya berhasil mengantar mereka sampai ke jenjang selanjutnya, saling mengucapkan janji suci sebagai tanda cinta sejati. 

Takdir cinta mereka telah cukup kuat tanpa perlu anak panah lagi. Cupid tersenyum bahagia. Anak panah cinta sejati pun dikemasnya lagi untuk digunakan pada pasangan yang lain.

 Hupp!

 Dengan sekali menyentakkan kaki, Cupid lompat dari dahan jambu air dan terbang dengan anggun meninggalkan tempat itu, menuju pasangan yang beruntung berikutnya.



--- 

ilustrasi gambar dari pixabay.com 



Baca Juga Fiksi Keren lainnya:


Komentar