Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Jenderal Bintang Tiga

 


Angin cukup tenang pagi ini. Di ujung dermaga, sebuah yacht kecil berwarna putih seperti pasir pantai bersandar dengan tenang. Kapten kapal baru saja pergi ke pusat kota untuk membeli bir dan cemilan. Di dalam lounge, lelaki paruh baya, pemilik yacht, duduk bergeming.

Bernadino, nama sang taipan, sedang mengamati pesan demi pesan di layar gawainya. Gurat-gurat yang dibentuk dari usia dan kerasnya intrik di dunia bisnis memahat raut wajahnya yang kokoh. Lembar-lembar koran pagi terhampar di sandaran sofa. Sang taipan nampak tidak terlalu tertarik membacanya, pun menghabiskan isi cangkir kopi espresso yang tinggal setengah.

Terdengar langkah kaki dengan irama teratur dari arah buritan, menyusuri koridor lalu pintu ruangan terbuka.

“Sepertinya kamu membawa kabar buruk,” ucap Bernadino dengan tone berat dan dingin. “Tapi aku penasaran apa yang membuatmu memaksa kita harus bertemu di sini, Kim.”

Sang tamu yang sudah duduk dengan sopan di depan sofa mencari kata-kata yang tepat untuk memulai kalimatnya. Dia seorang lelaki muda dalam balutan jaket kulit coklat tua. Topi bundar yang tadi menutupi kepalanya sudah tergantung rapi di kapstok kayu. Matanya kecil tapi terlihat dingin dan kelam.

“Ya, Tuan. Barang yang dikirim minggu lalu ditahan kepolisian. Sudah lolos dari bea cukai, sebenarnya. Kontainer dicegat dalam perjalanan ke rumah aman. Mereka berhasil memisahkan paket dan barisan  pengamanan. Ada rekayasa lampu merah dan kemacetan. BNN sekarang semakin canggih,” ucap Kim dengan nada berat.

Bernadino mengembuskan napas panjang. “Ini bukan pengiriman kecil, Kim. Dan kamu baru saja mengacaukannya.”

“Maaf, Tuan. Aku sudah berusaha semampunya. Kali ini langkah BNN unpredictable,” Kim tertunduk

“… dan kamu bukan datang hanya untuk curhat dan minta maaf, bukan? Apa yang kamu temukan?” tanya Bernadino masih dengan suaranya yang dingin.

Kim menyodorkan sebuah tablet dengan layar terbuka. Wajah perwira tinggi, dengan tiga bintang tersemat di kerah bajunya muncul di situ. Wajahnya bersih, tapi mulai dihiasi kerut-kerut usia di sana-sini. Mata sang jenderal menatap tajam, seolah ingin menerkam siapapun yang berani menantang nyalinya.

“Hmm, wajahnya familiar.”

“Ya, Tuan. Beberapa nama muncul, tapi aku punya firasat kuat dan informasi pendukung kalau jenderal ini yang menggagalkan pengiriman terakhir. Namanya Jenderal Bayu.”

“Ah, ya aku ingat sekarang. Dia memang berbahaya, Kim. Alumni pendidikan intelijen Rusia. Dingin dan tidak mengenal ampun memberantas kejahatan. Kabarnya, dia menguasai beberapa bahasa dan punya pengaruh besar di antara para jenderal. Jangan main-main dengannya, Kim. Bagaimana dia bisa terlibat? Dia masih di markas besar kepolisian, bukan?”

“Ya, Tuan. Menurut informanku dia ditugaskan Kapolri secara khusus mengejar salah satu sindikat trafficking lintas negara. Bisa jadi terhubung ke jaringan kita dari situ. Ini yang sedang aku selidiki.”

Bernadino berdiri dan beranjak ke jendela bundar untuk memandang laut dan pulau di luar yacht. Dia menerawang jauh.

“Dia tidak akan berhenti, Kim. Aku pernah sekali berurusan dengan jenderal ini.”

“Sejauh ini aman, Tuan. Jejak sudah dibersihkan. Hanya kalau memang dia sehebat itu, mungkin tinggal masalah waktu jaringan kita dibongkar. Kecuali kita mengantisipasinya lebih dahulu. Hanya … harus aku akui, jenderal ini benar-benar bersih.”

“Untuk menghabisinya secara frontal sama saja bunuh diri, Kim. Orang seperti ini cukup tangguh dan punya pengamanan berlapis-lapis. Kita butuh cara yang senyap,” sambung Bernadino lalu kembali berjalan ke arah sofa. “Bagaimana dengan wanita? Istrinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu bukan?”

“Ya Tuan. Tapi sepertinya dia memang bukan tipe laki-laki yang akan jatuh karena wanita. Tidak pernah ada rumor sekecil apapun, tidak pernah terlihat bersama wanita lain.”

Bernadino duduk kembali dan memandang lekat-lekat foto Jenderal Bayu di layar tablet. Dia menggangguk-angguk kecil.

****

Sepuluh hari kemudian.

Jenderal Bayu dalam balutan batik lengan panjang mewah memasuki pintu rumah makan Gala Dining, restoran bintang lima di jantung kota Jakarta yang populer dengan menu seafood-nya. Seorang petugas menuntunnya ke salah satu meja bundar yang sudah di-reservasi. Sudah ada sepasang suami-istri di situ. Keduanya langsung berdiri dan menyambut sang jenderal dengan hangat.

“Apa kabar, Jenderal? Sudah lama tidak ketemu, ya?”

“Iya, Pak Menteri. Terakhir Desember tahun lalu kalau tidak salah,” sahut Jenderal Bayu.

Setelah bersalaman mereka duduk dan kembali larut dalam percakapan. Dua ajudan yang mengawal sang jenderal duduk di meja bundar di sebelah mereka.

Di restoran ini akan dilangsungkan resepsi makan malam sekaligus launching buku yang ditulis oleh salah satu anggota DPR. Tidak heran tamu-tamu undangan adalah para pembesar dan orang-orang penting.

Semakin lama restoran yang besar itu semakin padat. Kesibukan pelayan restoran meningkat. Mereka hilir mudik mengantar makanan dan minuman ke meja-meja tamu. Di bagian depan ruang resepsi, dekat panggung, disediakan space khusus untuk para wartawan dan jurnalis yang akan meliput kegiatan. Di situ juga sudah terlihat penuh.

Kini meja bundar di depan sang jenderal sudah dikeliling tamu-tamu yang lain. Anggota DPR, pejabat lembaga negara, pemimpin redaksi dan owner perusahaan multinasional. Sebagian besar sudah dikenal dengan baik oleh sang jenderal.

Saat mengantar hidangan pembuka, seorang pelayan, lelaki muda berusia kurang lebih 20-an tahun tanpa sengaja menyenggol siku sang jenderal. Untunglah sup asparagus kepiting yang diantarnya tidak tumpah dan berhasil mendarat dengan aman di atas meja.

Wajah pelayan yang putih bersih jadi kemerah-merahan, mungkin karena malu campur takut. Dia berulang kali tertunduk mohon maaf atas kesalahannya kepada sang jenderal. Jenderal Bayu tersenyum dan menepuk-nepuk bahu pelayan itu. Dia juga mengangkat telapak tangan ke dua ajudan yang sudah berdiri dari meja sebelah untuk memberi kode ‘tidak ada masalah’

“Tidak apa-apa, Mas. Saya juga salah tadi.”

Pelayan itu kembali menunduk dan pamit meninggalkan mereka.

Pemandangan barusan menarik perhatian seorang fotografer dari barisan pers. Dia sudah beberapa kali mengambil gambar secara acak, termasuk ke arah meja Jenderal Bayu.

Gambar-gambar itu kini terpampang dengan jelas di layar laptop Bernadino. Dia sedang berada di president suite salah satu hotel bintang lima. Dengan senyum kemenangan dia memandang foto demi foto.

“Lihat, dia memandang pria muda itu dengan tatapan kagum dan … napsu. Ini membuatnya lengah,” gumamnya.

Dia lalu mengambil gawai dan melakukan panggilan.

“Kim, apakah orangmu bisa dipercaya?” dia bertanya dengan dingin.

“Siapa, Tuan, Pemuda itu? Ya, Alex seorang pro. Jangan tertipu dengan tampang polosnya.”

 “Segera konfirmasi racunnya sudah ada di piring jenderal atau belum.”

“Siap, Tuan.”

Percakapan terputus.  

Beberapa menit kemudian gawai Bernadino berbunyi nyaring.

“Kim?”

“Sudah confirmed, Tuan!”

“Kalau begitu segera tarik orangmu dari tempat itu. Racunnya baru akan bekerja 20-30 menit kemudian, masih ada waktu untuk keluar dan membersihkan jejak.”

“Siap, Tuan. Tuan…?”

Hening sejenak. Bernadino menunggu. “Kim?”

“Insting anda benar. Aku harus angkat topi untuk ide ini.”

Bernadino terkekeh. “Segera pastikan orang-orangmu keluar dengan aman.”

Setelah percakapan kembali terputus. Bernadino menutup layar laptopnya. Dia tidak sabar menunggu berita yang akan muncul di koran pagi dan portal berita daring besok.



Tayang pertama kali di Kompasiana | ilustrasi gambar oleh Szilárd Szabó dari Pixabay   


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:







Komentar

Nadita mengatakan…
Cerpen yang keren