Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Cewek Datang Bulan

 


Topi dari bola plastik. Kalung dari tutup sofdrink. Papan nama selebar kertas karton, bertuliskan spesies penghuni kebun binatang. Penampilanku dan kawan-kawan baru tak ubahnya caleg gagal yang berubah jadi orang edan. Yang membedakan kami, caleg gagal itu keliaran di jalan-jalan kota, sedangkan kami disuruh merayap di selokan sekolah baru kami, SMU Bunga Bangsa.

Beginilah susahnya perjuangan memakai seragam putih abu-abu. Tapi aku coba menghibur diri dengan ucapan orang kalau pengalaman masa-masa orientasi itu akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup. Biar nanti setelah berpisah lalu reunian kembali, pengalaman-pengalaman ini bakalan jadi cerita indah untuk membuka percakapan.

“Hehh!! Badak bercula satu!!....,” teriak salah satu senior dari arah belakang. Itu nama panggilanku saat ini, tapi aku pura-pura cuek. Tetap asyik memunguti sampah-sampah plastik yang berserakan di sekitar gedung perpustakaan.

Terdengar panggilan ketus lagi untuk kedua kalinya. Aku pun menoleh.

“Sa… saya, kak…,”

“Iya yang pakai nama badak itu cuman kamu!! Udah, berhenti mungut sampah. Sekarang segera ke auditorium!”

“Sekarang, kak?”

“Gaaak! Abis Lebaran….,”

Aku tersenyum kikuk.

“Eeeh, senyam senyum lagi, dikira cakep. Udah buruan…”

Aku mengiyakan lagi lalu setengah berlari menuju ke auditorium sekolah. Memang tadi saat apel pagi, sudah disampaikan kalau tepat jam 10.00, bapak kepala sekolah akan menyampaikan materi. Masalahnya kami tidak diperbolehkan memakai jam tangan. Aku dapat tugas membersihkan bagian belakang gedung perpustakaan, sendiri. Jadi hampir lupa waktu.

Aku memilih jalan pintas melewati halaman belakang gedung kelas di sebelah utara kompleks persekolahan. Napas setengah tersengal, karena aku berlari sambil meloncati perdu-perdu kecil yang tumbuh seenak udel di sela-sela tanah berbatu-batu.

Langkahku terhenti seketika. Seorang siswa baru, cewek, duduk menunduk, sesenggukan di bawah jendela kelas. Aku menegurnya. Dia berhenti terisak dan balas menatapku. Aku melihat matanya merah dan basah oleh air mata.

“Kamu kenapa?” aku berusaha melihat nama yang tertera pada papan nama kertas karton yang menggantung di lehernya. Tapi warna spidolnya telah memudar.

Cewek itu berusaha mengelap air matanya. Dia….. cantik juga. Rambutnya sebahu, tapi dikuncir ke belakang dengan ikat tali rafia biru.

“Oh, enggak apa-apa kok..”

“Enggak apa-apa kok nangis?? Eh, ayo buruan ke auditorium sekolah…. nanti disetrap senior lagi kalau ketahuan ngumpet disini… “

Cewek itu berusaha tersenyum.

“Sebenarnya… sebenarnya… aku lupa bawa pembalut. Padahal lagi datang bulan…. Udah, kamu duluan saja ke sana… Aku mau ke kamar mandi dulu..,”

Tanpa menunggu jawabanku. Dia lalu berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkanku. Aku berusaha menahannya, tapi pandanganku terganggu oleh bagian belakang roknya yang basah. Kemerahan. Aku bergidik ngeri.

“….kasih tahu senior cewek!!” seruku. Tapi dia tak menggubris. Lalu menghilang dibalik tembok ujung gedung kelas.

Kasihan juga…

Tapi aku lalu buru-buru kembali pada jalur semula. Auditorium.

---

Kami siswa-siswi baru seangkatan berjumlah  kurang lebih 200 orang. Namun sejak dimulai sampai pak Kepala Sekolah nyaris menyelesaikan presentasinya, aku tak kunjung melihat kembali cewek itu. Padahal leher sudah dibuat sefleksibel mungkin untuk melempar pandangan ke seluruh auditorium. Sepertinya dia memang tidak ada disini.

Menjelang waktu Ishoma, kakak-kakak panitia membagi bingkisan berisi dua potong kue plus air mineral gelas. Sekalipun bengis, ternyata kakak-kakak ini bisa baik juga. Aku memilih menghabiskan “ransum” tersebut di pojokan teras auditorium. Ada beberapa kursi panitia yang sedang ditinggal kosong pemiliknya. Tidak jauh dari situ, seorang senior cewek yang juga panitia, sedang memeriksa daftar hadir yang kami tandatangani saat pembawaan materi tadi. Saking seriusnya, kacamata setebal beton hampir melorot dari cuping hidungnya.

Dari raut wajahnya sepertinya dia tipe senior yang ramah. Akupun mendekat….

“Permisi, kak…. Meylani…,” aku bisa membaca jelas nama panggilan yang terpampang pada kartu name tag-nya.

Dia menatapku sekilas, lalu kembali memperhatikan daftar hadir di depannya.

“Kamu kenapa badak bercula satu?”

Suasana hampir rusak gara-gara julukan aneh itu. Tapi aku berusaha tetap bersikap wajar.

“Kak, tadi ada siswa baru cewek,… ng… kayaknya lagi…., lagi datang bulan. Tapi dia lupa bawa pembalut, katanya,…”

“…kamu ketemu dimana?” dia langsung memotong ucapanku. Keningnya nampak berkerut, kompak dengan pandangan matanya yang menajam.

“Tadi di belakang gedung kelas 11. Tapi….,”

“… tapi apa?!”

“….sepertinya dia tadi tidak muncul di auditorium….,”

Kini gantian aku yang heran, kenapa sepertinya sekarang giliran dia yang cemas. Dia segera membereskan berkas-berkas di hadapannya lalu buru-buru ngacir ke arah depan auditorium, tempat senior panitia yang lain berkumpul. Setengah jalan, dia berbalik lalu berusaha tersenyum,

“Trims informasinya ya. Nanti panitia yang urus….,”

Walaupun aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.

 ---

Jawabannya aku temukan dari Lubis, mahasiswa salah satu sekolah tinggi di kota kami. Lubis ini salah satu tetangga rumah, alumni SMU Bunga Bangsa dua tahun lalu.

“Kamu mesti hati-hati, Roy,” sambung Lubis lagi, setelah kami bercakap-cakap sekian lama. “Jangan lupa berdoa dan jangan pernah kosongkan pikiran….,”

Kami kini lagi bersantai di teras rumah Lubis yang asri. Menikmati panorama matahari yang hampir tenggelam, ditemani pisang goreng dan teh manis buatan ibu Lubis.

Cewek datang bulan. Demikian anak-anak SMU Bunga Bangsa menjuluki cewek jadi-jadian itu. Pasalnya  penampakannya punya ciri khas, seperti lantai yang ternoda oleh bercak darah, atau rok yang dikenakannya basah oleh darah. Setiap kali hadir menampakkan diri, pasti akan ada peristiwa aneh yang terjadi di sekolah. Kabarnya, terakhir menampakkan diri  dua tahun lalu, ada peristiwa kesurupan massal di sekolah. Aku memang pernah mendengar cerita tersebut. Aku bergidik membayangkan kembali pertemuan kami siang tadi di sekolah.

 Aku menatap lekat-lekat mata Lubis, tidak ada tanda-tanda kebohongan disitu.

---

Hari kedua masa orientasi, aku bermaksud menceritakan “rahasia kecil” itu pada teman-teman baruku. Namun aku terkejut, karena ternyata didahului oleh yang lain dengan tema yang sama.

“Kemarin Naryo ketemua cewek datang bulan di dekat toilet sekolah…,”

“Dia tahu gak?” tanya yang lain.

“Enggak-lah…. Kalau tahu bisa pingsan duluan,” sahut yang lain.

“Kata kakak-kakak panitia, dulu sudah berhasil dipindahkan habitatnya oleh ‘orang pintar’…,”

“Kok bisa muncul lagi…?,”

Demikian riuh rendah pergunjingan kami di awal pagi. Begitu aku bilang aku juga ketemu langsung pada cewek manis jejadian itu, spontan kawan-kawan mengerubutiku bak jurnalis infotainmet yang sedang menginterogasi seleb selingkuhan pejabat.

Kekhawatiran Lubis terbukti siang harinya.

Salah satu anak baru, kawan kami, tiba-tiba kesurupan menjelang waktu pulang sekolah. Cewek bongsor itu bernama Ludia. Dia sontak berteriak-teriak histeris, sambil meronta mirip orang sakit ayan. Bola matanya memerah dan menatap tajam ke orang-orang di sekitarnya. Butuh empat orang lelaki dewasa, sudah termasuk satpam sekolah, untuk menahan gerakannya lalu membopongnya ke ruang UKS untuk mendapat pertolongan segera.

Kami semua merapat ke ruang UKS untuk melihat langsung kejadian itu. Namun guru-guru mengarahkan kami untuk langsung pulang ke rumah.

Tidak lama berselang “orang pintar” langganan sekolah didatangkan. Sebagian besar siswa, senior maupun yunior, sudah meninggalkan halaman sekolah. Aku termasuk satu diantara sedikit siswa kepo yang memilih tinggal sejenak, berleha-leha di gazebo tak jauh dari UKS untuk menunggu kelanjutan nasib kawan kami, Ludia.

Sepertinya keadaan sudah mulai terkendali. Suara serak Ludia yang sejak tadi terdengar membelah langit sekolah kini tak terdengar lagi.

Dari arah UKS, kak Meylani mengarah ke gazebo kami. Dia mengajak kami untuk segera pulang, namun kawan-kawan, termasuk yang sekompleks dengan Ludia berkata ingin menunggui Ludia terlebih dahulu.

“Kamu hari ini baik-baik saja kan?” kak Meylani pun bertanya kepadaku.

Aku menggagguk. “Iya kak. Aman terkendali….”

“Paranormalnya bilang apa, kak?” tanya salah satu kawanku.

“Kali ini serangannya tidak seganas dua tahun lalu. Ki Saruh bilang arwah penunggu sekolah ngamuk karena ada yang melakukan perbuatan tidak baik beberapa hari lalu. Entahlah apa yang dimaksudnya. Tapi Ki Saruh berhasil mengamankan arwah itu… juga Ludia.”

“Syukurlah…,” sahutku.

“Ludia bagaimana, kak?”

“Dia sudah siuman hanya masih lemah… Mungkin bentar lagi bisa diantar pulang…,”

Kami semua terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.

---

Sejak saat itu keadaan memang lebih aman. Siluet wajah cewek sesenggukan di belakang kelas, sesekali memang masih menghampiriku lewat mimpi. Tapi sejauh ini, tidak ada lagi tanda gangguan-gangguan arwah atau jejadian di sekolah kami.

Proses belajar mengajar juga mulai memaksa kami mengalihkan konsentrasi pada bahan-bahan pelajaran dibanding membicarakan hal-hal klenik yang tidak bakal ketahuan ujung dan pangkalnya.

Sampai satu bulan kemudian.

Siang bolong, saat melintas di sisi lapangan basket, aku seperti mengalami dejavu. Cewek itu, cewek datang bulan itu, berdiri anggun di tengah lapangan sambil menatapku lekat-lekat. Wajahnya masih semanis pertama kali bertemu dulu. Tapi aku mendadak merinding. Dan sepertinya aku satu-satunya manusia yang bisa melihat langsung penampakannya. Teman-teman yang lain lalu lalang seperti tak terjadi apapun.

Sedikit panik aku mencoba menggamit lengan Sony, teman sebangku. Tapi dia ternyata telah berjalan menjauh, mengira aku masih bersisian dengannya.

Saat kembali berpaling ke arah tengah lapangan, cewek itu telah menghilang,… seperti pasir yang dihembus angin.

Kuedarkan pandang ke segala penjuru, cewek itu benar-benar telah pergi. Diliputi kebingungan, aku segera melangkahkan kaki. Namun kembali terkejut ketika tiba-tiba Meylani, kakak kelas, telah berdiri menghadang langkahku.

Sekonyong-konyong dia menudingku.

“Cewek itu menyukaimu……,”

“Cewek? Siapa, kak?”

“Yaa, cewek itu menyukaimu. Cewek yang kau lihat baru-baru ini…,” suara Meylani entah kenapa menjadi serak seperti nenek yang hampir sekarat. Dia sontak mencengkeram kerah bajuku. Aku baru memperhatikan dibalik kacamata tebalnya, kedua matanya telah berubah menjadi semerah darah!

****************** 


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:







Komentar