Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Plot Twist


 

Biasanya cinta tidak mau berlama-lama singgah di hatimu, dia selalu punya alasan untuk cepat-cepat pergi dari sana. Alasan yang paling logis sampai yang paling absurd, tapi yang alasan paling sering adalah … ya, kamu memang sudah lama menutup pintu hatimu rapat-rapat.
Sejak peristiwa itu …
Sejak lelaki di masa lalumu menggoreskan belati di situ, menjadikannya lukisan patah hati yang tidak mudah lekang oleh waktu, bahkan oleh mereka yang sungguh-sungguh ingin menutup lukisan itu dengan lembaran cinta yang baru.
Tapi kali ini nampaknya cinta yang datang cukup betah.
 
Dia bertahan sehari
dua hari
tujuh hari
sebulan …
 
Aku jadi penasaran, siapakah lelaki yang akhirnya berhasil membuka kembali pintu hati yang telah lama tertutup.
Lalu …

Aku terkejut karena melihat setan dari masa lalu.
Lelaki yang ingin membuka lembaran cinta baru denganmu dan lelaki yang menggores belati di hatimu adalah orang yang sama.
Jika ini memang takdir, apakah takdir melukis kisah sekejam itu? Menyatukan, memisahkan lalu menyatukan kembali dengan keping-keping hatimu yang jadi kanvas lukisannya?
Ah, persetan dengan takdir! Jangan-jangan lelaki itu hanya akan kembali membuatmu terluka lebih dalam?

Aku akan mengasah belatiku sendiri. Akan kulukis sesuatu di hatinya untuk membuatnya ikut merasakan kesakitanmu. Lagi pula jika memang takdir sudah menggariskan akhir cinta yang manis untuk kalian berdua, biarlah aku yang jadi plot twist-nya.


---


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:






Komentar