Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Air Mata Langit




Air mata tidak selalu mengantarkan kesedihan
elegi yang dinyanyikan jiwa-jiwa kesepian.
Air mata juga bisa jadi tanda bahagia
sukacita yang ditumpahkan dari dalam dada
saat kata-kata kehilangan kuasanya.
 
Tapi apakah arti air mata langit
yang dicurahkan dari awan-awan kelabu
pada senja, pada segara, pada padang ilalang
pada pegunungan, pada hutan, pada jalan-jalan metropolitan
pada kepala-kepala yang termangu?
 
Nelangsa atau bahagia?
 
Langit dan alam ikut berduka,
ucap seorang pria di hadapan nisan wanitanya.
 
Di tempat lain
seorang ibu memeluk erat-erat anak lelakinya
yang baru kembali dari negeri orang.
Langit ikut berbahagia bersama kami,
ucapnya.
 
Jadi nelangsa atau bahagia?
 
Untuk menjawabnya mungkin
kita harus menampung air mata langit pada tempayan
lalu memandang wajah dalam tempayan lekat-lekat.
Nelangsa atau bahagia?

----

Tayang pertama kali di Kompasiana | ilustrasi gambar dari pixabay.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:





Komentar