Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Gula Pasir



Ke dalam cangkir keramik putih, Halimah menuangkan satu sendok gula pasir yang baru dibelinya di warung sebelah. Ditatapnya lama-lama genangan gula pasir itu seperti menatap cermin, lalu dia menuangkan sesendok lagi. Membayangkan abang Jefri akan berkata “Wah, kopinya manis, semanis neng pembuatnya….,” membuat Halimah tersenyum sendiri.

Di teras rumah, pujaan hatinya, Jefri telah menunggu dengan sabar, walau nyamuk-nyamuk empang dari tadi tidak berhenti menggodanya. Kekasih hatinya itu datang bertamu tepat di malam minggu yang bermandi bintang-bintang dengan rasi Sagitarius di ujung langit utara sana.

Dengan anggun Halimah mengantar secangkir kopi yang mengepul dan sepiring pisang rebus. Abah yang terbatuk-batuk di depan TV akibat masuk angin dianggapnya reklame lewat saja.

Sesampai di teras, Halimah disambut dengan wangi gel rambut dan puja puji, khas pemuda yang sedang kasmaran. Halimah pun tersipu lalu mempersilahkan Jefri menyicipi kopi dan pisang rebus yang khusus dibuat dengan cinta dan senyum termanis.

Harap-harap cemas Halimah menunggu ucapan Jefri setelah menyeruput kopi hitam racikannya. Sedetik, dua detik, tiga detik, Jefri tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya memandang tajam ke atas cangkir kopinya.

“….. ada apa, bang? Kopinya tidak enak ya?” tanya Halimah.

Jefri sedikit terkejut.

“Oh, enggak, hanya….. hanya kopinya manis sangat, neng. Abang tidak biasa aja.. .”

“Ooh…. Abang suka kopi pahit ya,”

“Iya, neng,” Sahut Jefri malu-malu. “Tapi nggak apa-apa kok. Abang sih suka-suka aja. Neng Limah kan udah susah payah buatin buat abang, jadi abang mesti hargai….”

Hening sejenak, lalu Jefri menyambung lagi.

“Cinta juga seperti itu kan, neng….  Sifat dan selera boleh berbeda, tapi agar cintanya awet, harus saling menerima dan menghargai satu sama lain.”

Halimah langsung merasa sejuuuuuk mendengar ucapan Jefri. Lalu buru-buru menutup pipinya yang merah merona.

“Eh, kok neng Limah wajahnya jadi merah gitu,…” ucap Jefri.

Halimah semakin malu sehingga buru-buru masuk ke dalam rumah, pura-pura membawa nampan kosongnya.

Jefri pun kebingungan ditinggal sendirian di teras. Untunglah bulan purnama malam itu berpendar cerah meniupkan mantra cinta ke tepian kalbu anak manusia.


---
Ilustrasi gambar dari pixabay.com

Baca Juga Fiksi Keren lainnya:







-- 

Komentar