Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Kucing Penjaga SPBU



Tuan Baron baru saja membeli seekor kucing manis untuk menjaga SPBU miliknya. Kucing Persia yang diberi nama Jenar ini memiliki perpaduan warna jingga, kuning dan putih, mirip si Oyen yang cukup terkenal di media sosial. Rumah-rumahan mini di sebelah kantor SPBU dibangun untuk menjadi pos jaga si Jenar. Nah, fungsi kucing ini bukan untuk “mengundang” pelanggan seperti kucing-kucingan di depan toko yang biasa kita lihat. 

Jenar memiliki tanggung jawab khusus. Pasalnya setelah bertahun-tahun menekuni bisnis penjualan BBM, Tuan Baron baru menyadari selama ini stasiun pengisian BBM miliknya mengalami kebocoran. Belum lama ini ketahuan ada tikus-tikus nakal yang gemar menggerogoti tangki-tangki penampungan BBM miliknya. Tikus jenis ini spesial. Kesukaan mereka bukan remah-remah roti dan nasi, keju atau bahan pangan seperti tikus pada umumnya. Kesukaan mereka adalah minyak bumi dan produk olahannya.

Pemilik toko hewan asal Si Jenar mengklaim bahwa kucing ini sudah terlatih untuk meronda, mengendus dan menangkap tikus-tikus nakal yang gemar berkeliaran di sekitar rumah.

Tuan Baron senang karena klaim pemilik toko hewan tersebut bukan omong kosong. Setelah Jenar “bekerja” beberapa hari lamanya, tidak ada lagi keluhan soal tikus-tikus nakal dari karyawannya. Tangki-tangki penampungan BBM aman terkendali. Bisnis berjalan lancar karena tidak ada lagi kebocoran.

Tapi di awal pagi seminggu kemudian, semua orang terkejut. Ada tiga ekor kucing yang sekarang sedang berjaga di sekitar SPBU dan semuanya mirip si Jenar. Ketiganya nampak akur seperti sudah berteman lama.

“Apa si Jenar memanggil teman-temannya, ya?” tanya Tuan Baron.

“Bisa jadi, Tuan,” sahut karyawan SPBU yang sedang bersiap-siap.

“Tidak apa-apa, Tuan. Satu kucing saja SPBU kita aman dari tikus-tikus itu. Apalagi kalau ada tiga kucing seperti ini,” sahut karyawan yang lain.

Tuan Baron mengangguk-angguk membenarkan, lalu mengajak karyawan-karyawannya kembali bekerja.

Sayangnya, harapan itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Sejak ada tiga Jenar, para karyawan kembali mengeluh mengenai tikus-tikus nakal yang muncul lagi di area SPBU. Beberapa tangki bocor, bahkan selang-selang nosel pengisian pun jadi korban kenakalan tikus-tikus itu.

Memikirkan kejadian tersebut, Tuan Baron tidak bisa tidur dengan pulas. Kalau tidak segera ditangani, dia akan semakin mengalami banyak kerugian.

Di pengujung suatu malam yang sepi, Tuan Baron baru saja hendak membaringkan diri ketika mendengar decit-decit halus di bawah tempat tidurnya. Dia kembali bangun dari tidur untuk menyalakan lampu kamar, lalu menjerit kaget karena kakinya menginjak sesuatu di lantai.

Seekor tikus! Sesaat setelah lampu kamar dinyalakan, Tuan Baron melihat seekor tikus berdiri tidak jauh dari kakinya. Tikus itu loncat dan menerjang kaki Tuan Baron. Tuan Baron kembali menjerit karena tahu-tahu tikus itu menggit ujung jempol kakinya. Darah segar memercik ke lantai.

Kejutannya tidak hanya sampai di situ. Tikus yang barusan menggigit jari kakinya sekonyong-konyong berubah menjadi wujud yang lain, wujud sesosok manusia. Tuan Baron bergidik ngeri, karena melihat sosok jelmaan tikus itu seperti memandang sosok dirinya sendiri di dalam cermin.

Segala sesuatunya berlangsung begitu cepat. Malam itu, tikus-tikus nakal berubah menjadi sosok siapapun yang digigitnya. Pegawai SPBU, sopir mobil tangki, ibu-ibu yang kebetulan melintas.

Dalam hitungan jam, bermunculan manusia-manusia jelmaan tikus-tikus nakal, bahkan para taipan dan tokoh masyarakat ikut menjadi korbannya. Pengusaha, direktur utama, manajer pemasaran, pejabat negara dan manusia-manusia yang lain. Hanya saja, walaupun sudah berubah rupa menjadi manusia-manusia dengan beraneka ragam profesi, kesukaan mereka masih sama. Minyak bumi dan segala produk olahannya.


------- 


ustrasi gambar dari pixabay.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:







Komentar