Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Jalan Pulang yang Hening




Sore kembali bergulir,
jalan-jalan kota kembali dipenuhi kendaraan bertenaga listrik.
Seperti biasa, mereka melakukan perjalanan pulang
seperti matahari yang pulang kepada malam.

 

Jalan-jalan panjang dilewati dengan hening.
Kendaraan susul menyusul
tanpa asap
tanpa bising
sehingga semua orang bisa mendengar
suara kehidupan yang sebenarnya:
denyut kerinduan
renyah tawa para pekerja
panggilan doa dari sudut-sudut kota
debur ombak
angin senja
kicau burung yang terbang kembali ke sarang yang hangat
bahkan nyanyian malam yang bersahaja.
 
Peradaban jadi seperti sepasang sahabat lama
yang sedang bercakap-cakap dengan santai
tentang sehari lagi kehidupan yang baru saja dilewati.
 
Di tengah jalan pulang yang hening,
mungkin dari sinilah kita akan belajar
pelan-pelan
menggenggam masa depan.


---



Pertama kali tayang di Kompasiana


Ilustrasi gambar dari pengolahan gambar AI


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:








Komentar