Fiksi Pilihan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sejak Rabu yang diasuh gerimis
dan salib abu ditorehkan ke dahi
kujalani puasa dan pantang
sepenuh hati.
Ada yang istimewa.
Ya,
kali ini masa prapaskah dan Ramadan
datang bersamaan
seperti pengantin baru yang melangkah perlahan-lahan
menuju kursi pelaminan.
Aku pun makin menyadari
puasa
bukan lagi sekadar
takjil war
setan-setan yang diikat
atau polemik dapur umum.
Tidak peduli dari mana kita berasal
atau menuju ke mana saat kita hendak menyembah Tuhan,
Kita semua adalah anak-anak peradaban
yang selalu rindu pada asali
seperti musafir rindu rumah yang sudah lama ditinggal pergi.
Puasa adalah sebuah momentum yang penuh harapan
bagi kita yang benar-benar memaknainya.
Gerimis masih menggantung di udara
Tapi dari lengkung bulan sabit yang hadir sama-samar
sepertinya langit pun tersenyum setuju dengan puisiku.


Komentar