Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Bulan Puasa



Sejak Rabu yang diasuh gerimis

dan salib abu ditorehkan ke dahi

kujalani puasa dan pantang 

sepenuh hati.


Ada yang istimewa. 

Ya, 

kali ini masa prapaskah dan Ramadan 

datang bersamaan

seperti pengantin baru yang melangkah perlahan-lahan

menuju kursi pelaminan.


Aku pun makin menyadari

puasa 

bukan lagi sekadar 

takjil war

setan-setan yang diikat

atau polemik dapur umum.


Tidak peduli dari mana kita berasal

atau menuju ke mana saat kita hendak menyembah Tuhan,

Kita semua adalah anak-anak peradaban 

yang selalu rindu pada asali 

seperti musafir rindu rumah yang sudah lama ditinggal pergi.


Puasa adalah sebuah momentum yang penuh harapan 

bagi kita yang benar-benar memaknainya.


Gerimis masih menggantung di udara

Tapi dari lengkung bulan sabit yang hadir sama-samar 

sepertinya langit pun tersenyum setuju dengan puisiku.



---


Pertama kali tayang di Kompasiana


Ilustrasi gambar dari pixabay.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:









Komentar