Fiksi Pilihan

Nada Tinggi Belum Tentu Marah

  Di ruang persiapan, tuan presiden dalam balutan batik kontemporer sekali lagi memandang naskah pidatonya dan memberi perhatian pada tanda-tanda baca warna-warni yang bertebaran di sepanjang naskah.

Senja yang Memanggil Pulang



Menuntaskan rindu pada senja yang memanggil pulang

ibarat segelas air minum

yang menuntaskan dahaga seorang musafir di bawah terik matahari.

 

Segala masalah,

beban pikiran

dan penat yang menghimpit bahu

sejenak dilepaskan

saat memandang ufuk barat yang merona

berwarna emas dan tembaga.

Langit jadi seperti anak dara yang bersolek menyambut malam.

 

Lalu lampu rumah penduduk menyala satu per satu

pertanda para penghuninya baru saja pulang untuk melepas lelah

setelah menyelesaikan satu lagi pertarungan kehidupan hari ini

 

Jadi entah kamu anak senja atau bukan,

dengarlah saat senja memanggil

atau mencoba mengalihkan duniamu sejenak.

Sesekali biarlah dia merangkulmu erat-erat.


----- 


Pertama kali tayang di Kompasiana

Ilustrasi gambar dari pixabay.com


Baca Juga Fiksi Keren lainnya:








Komentar